Memaknai Semboyan Ki Hajar Dewantara

Oleh : HAIRUZAMAN.

(Penulis Buku, Praktisi Pers dan Wakil Pemimpin Redaksi Tabloid VISUAL Jakarta)

Peringatan Hari Guru Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada setiap 25 November, sejatinya harus dijadikan sebagai momentum untuk mengintrospeksi diri. Hal itu perlu dilakukan terutama oleh para pemimpin dan elite politik di negeri ini guna menciptakan “Baldatun Toyyibattun Warobbun Ghofur”.

Semboyan yang digagas oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, yang sebenarnya nama aslinya adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Mulai tahun 1922-an namanya berganti menjadi Ki Hajar Dewantara, selanjutnya disingkat sebagai Soewardi atau KHD.. Semboyan Ki Hajar Dewantara sebenarnya bukan hanya berlaku bagi kalangan guru di sekolah ketika melaksanakan tugasnya sebagai pendidik saja, melainkan konsep tersebut juga bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh para pemimpin dan elite politik di negeri ini.

Apabila dijabarkan secara detail semboyan dari Ki Hajar Dewantara itu yakni, Ing Ngarso Sung Tulodo artinya, menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan. Ing Madyo Mangun Karso, artinya, seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat. Tut Wuri Handayani, seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Konsep tersebut seharusnya dijadikan sebagai landasan bagi para pemimpin dan elite politik sehingga akan dicintai oleh rakyatnya.

Jika dianalisa lebih dalam semboyan yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara itu. maka bisa diaplikasikan sebagai gaya kepemimpinan yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sosok seorang pemimpin itu terkadang harus berada di depan dan menjadi suri tauladan bagi rakyatnya (Ing Ngarso Sung Tulodo). Akan tetapi, di saat tertentu juga harus berbaur dan berada di tengah-tengah rakyatnya untuk membangkitkan dan menggugah semangat (Ing Madyo Mangun Karso). Suatu ketika sosok pemimpin juga berada dibelakang rakyatnya untuk memberikan spirit dan motivasi serta semangat dalam bekerja (Tut Wuri Handayani).

Bagi para pemimpin dan elite politik di negeri ini harus memberikan.tauladan bagi rakyatnya misalnya, tidak melakukan tindak pidana korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Pasalnya, hal itu selain akan berdampak buruk pada diri dan keluarganya, juga akan merugikan negara dan melukai hati rakyatnya Terkat dengan ini, para pemimpin diharapkan harus selalu menjaga perilaku dan moralnya dalam menjalankan tugas sehari-hari yang diembannya.

Seorang pemimpin juga diharapkan mau berbaur di tengah-tengah rakyatnya guna menggugah dan membangkiitkan semangat dalam bekerja. Dalam konteks ini, seorang pemimpin bisa mendengarkan dan menampung berbagai keluh-kesah serta aspirasi dari rakyatnya. Hal ini perlu dilakukan sebagai bahan evaluasi dan memperbaiki dalam menjalankan tugasnya mengemban amanat rakyat.

Pemimpin juga terkadang harus “Tut Wuri Handayani”, untuk memberikan spirit dan motivasi kepada rakyatnya. Sehingga, rakyat akan kembali termotivasi dengan diberikan berbagai pemahaman terhadap sesuatu yang dibarapkan oleh seorang pemimpin tersebut.

Dalam ilmu kepemimpinan konsep yang digagas oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara dijadikan sebagai bahan rujukan dan acuan bagi seorang pemimpin. Dengan berpedoman kepada semboyan “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” yang diaplikasikan oleh para pemimpin dan elite politik diharapkan dapat mencapai cita-cita didambakan yang menjadi realita “dass sein” dan “dass sollen” yakni, Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur”. Wallahu’alam Bishowab. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.