Proyek Jembatan Taman Mangrove di Desa Ketapang Disinyalir Abaikan K3

0

Tangerang, Harianexpose.com

Pembangunan proyek jembatan yang ada di Taman Mangrove,  Desa Ketapang, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, disinyalir tidak menerapkan standar K3.

Berdasarkan pengendusan Harianexpose.com, Kamis (15/10/), dilapangan, menyebutkan, pengerjaan proyek jembatan yang saat ini sedang berjalan itu seakan tidak menghiraukan keselamatan pekerja dan seperti tidak ada pengawasan. Pekerja tampak dibiarkan tanpa menggunakan keamanan atau sefti.

Selain itu, para pekerja satu pun tidak terlihat yang menggunakan helm, sepatu maupun rompi. Padahal semua itu sangat berguna untuk menjaga keselamatan para pekerja. Bahkan, semua pekerja seolah mengabaikan protokol kesehatan. Sebab, tak ada seorang pekerja pun yang menggunakan masker dan menyediakan tempat cuci tangan. Hal itu sesuai aturan yang diterapkan pemerintah.

Tidak adanya pelaksana lapangan saat sedang melaksanakan pengecora berimbas lemahnya pengawasan. Serta tidak terlihat papan informasi proyek. Padahal itu sudah jelas melanggar Peraturan Presiden dan Undang-undang (UU) No.14 Tahun 2008 Tentang KIP dan Perpres No.70 Tahun 2012 Tentang Perubahan kedua atas Perpres No.54 Tahun 2010, Tentang Pengadaan Barang Jasa Pemerintah.

Salah seorang warga berinisial SG, kepada Harianexpose.com, Jum’at,  (16/10), mengatakan, pihakbya  sebagai warga sejak awal musyawarah tidak akan dirugikan dengan debu maupun getaran dan yang lainnya. Tapi ternyata akan ada pakubumi. Sehingga khawatir rumah warga menjadi rusak. Padahal ketika musyawarah dengan warga bahwa tidak ada pakubumi.

Ia mengungkapkan, usai musyawarah semua warga diminta tanda tangan, termasuk saya sudah pergi pun dipanggil lagi. Tapi suratnya tidak ada kopnya dan tidak ada kompensasi apa pun ketika acara penanda tanganan kesepakatan.

Dijelaskan, kemudian datang tiang pancang percis di depan rumah saya. Akhirnya ternyata ada pakubumi. Warga sempat menanyakan kenapa ada pakubumi. Menurut pihak pelaksana proyek, itu bukan pakubumi melainkan tiang pancang.

Sebagai warga, sambung dia lagi,  pihaknya belum pernah dimintai tanda rangan untuk bantuan kompensasi dari pihak pelaksana proyek jembatan di Taman Mangrove. Justru saya berkeyakinan proyek ini yang menentang negara. Biasanya semua dikerjakan secara rapih. Akan tetapi dibawah justru dinilai tidak transparan.

“Sebelum terjadi jembatan ambruk, saya baru pulang sekitar jam 11 malam. Tapi tiba-tiba di depan rumah saya terpampang balok kelapa. Sehingga mau masuk ke rumah saja tidak bisa. Saya pun akhirnya melaporkan ke Camat.
Malam berikutnya sebuah mobil masuk dengan alat berat. Sehingga  menjadi ambruk jembatan tersebut. Sampai saat ini menyebabkan irigasi menjadi  tertutup. Namun, hingga kini tidak ada tindak lanjutnya. (Agus).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *