Jurnalisme, Satu Huruf (Bisa) Berubah Makna

0

Oleh : HAIRUZAMAN.
(Editor In Chief Harianexpose.com)

DALAM dunia jurnalisme, seorang Pemimpin Redaksi, Redaktur maupun wartawan yang setiap hari melaksanakan tugas jurnalistik, dituntut untuk terus belajar. Sehingga lautan keilmuannya akan semakin luas. Baik itu dibidang ilmu jurnalistik maupun berbagai ilmu pengetahuan lainnya. Termasuk pula para jurnalis harus menguasai bahasa jurnalistik.

Berdasarkan pengalaman selama puluhan tahun dalam menggeluti dunia jurnalistik, ternyata menulis sebuah berita itu harus mengikuti kaidah jurnalistik yang sudah baku. Hal itu agar berita yang ditulis wartawan tidak membingungkan publik pembaca. Sehingga mudah untuk dipahami isi pesan (message) yang disampaikan melalui berita dan disuguhkan kepada khalayak pembaca

Seorang jurnalis, sebelum terjun menggeluti dunia jurnalisme, terlebih dahulu harus mempunyai bekal keilmuan. Misalnya, sering mengikuti pendidikan dan pelatihan jurnalistik, seminar jurnalistik maupun belajar secara otodidak melalui literasi yang dapat menambah keilmuan. Seiring dengan kemajuan yang begitu pesat dibidang teknologi informasi, wartawan juga dituntut agar mampu beradaptasi dengan perkembangan peradaban. Sehingga tidak tergilas dengan hingar-bingar kemajuan teknologi di era digital sekarang ini.

Suatu ketika, pernah ada seorang wartawan media online bertemu saya. Secara spontan, ia pun bergegas menyambar tas miliknya yang tergantung di sepeda motornya. Dari dalam tas miliknya, wartawan tadi lalu mengeluarkan pena dan sebuah buku catatan. Saya pun sempat tak menduga, ternyata wartawan tersebut bertanya secara detail teknik menulis berita. Mulai dari judul, lead, tubuh berita sampai diakhiri dengan penutup.

Tak ayal lagi, saya pun sempat berdecak kagum. Sebab, rekan wartawan itu tak hanya bertanya secara detail tentang teknik menulis berita, ia pun mencatat dalam bukunya semua yang ditanyakannya. Di saat sekarang ini agak jarang sekali sosok wartawan yang kreatif dan pernah saya temui. Kendati usianya sudah tidak muda lagi, akan tetapi baginya belajar itu tak mengenal batas usia.

Ketika Penulis memberikan materi pendidikan dan pelatihan Jurnalistik di wilayah Kabupaten Tangerang, beberapa tahun silam, beberapa rekan Pemimpin Redaksi media cetak dan media online pun ikut bergabung menjadi peserta. Bahkan, mereka mengikuti kegiatan pendidikan dan pelatihan jurnalistik itu sampai selesai. Ada pula yang masih merasa tak puas dan bertanya usai kegiatan berakhir. Saya sangat salut dan mengapresiasi budaya yang seperti itu. Sebab, belajar itu tidak hanya diperoleh dari bangku pendidikan formal saja. Tetapi juga melalui kegiatan-kegiatan pendidikan non formal serta diskusi-diskusi terbatas.

Ada pula pengalaman menarik rekan wartawan salah satu media cetak. Ia sempat diprotes oleh sumber berita lantaran kesalahan dalam menulis yang berakibat fatal dan menimbulkan salah persepsi. Salah satu huruf dalam sebuah “kata”dalam kalimat suatu berita berubah. Jabatan sumber berita yang seharusnya ditulis “Penilik Sekolah” berubah menjadi “Pemilik Sekolah”. Tentu saja hal itu merubah makna dan arti. Tak pelak, sehingga sumber berita tersebut memprotes berita yang ditulis oleh rekan wartawan.

Karena itu, seorang wartawan harus mempunyai skills individu dalam menulis sebuah berita agar tidak terjadi kesalahan yang bisa berakibat fatal. Sehingga akan merubah makna yang terkandung dalam berita tersebut. Padahal wartawan yang melakukan wawancara yang lebih mengetahui berita yang ditulisnya ketimbang Pemimpin Redaksi yang hanya duduk dibelakang meja.

Dalam menulis sebuah berita, wartawan juga harus mempunyai kemampuan editing. Dalam satu kalimat misalnya, apakah ada kata-kata mubadzir yang sering diulang-ulang, seperti, kata “dan – serta – yang – bahwa” dan sebagainya. Gaya penulisan seperti itu selain tidak enak untuk dibaca, juga bisa membosankan bagi pembacanya. Sehingga kemampuan tata bahasa dan menganalisa kesalahan dalam penulisan itu perlu dilakukan oleh seorang jurnalis.

Proses editing naskah berita memang memerlukan ketekunan dan kedalaman wawasan pengetahuan. Kendati ketika menulis berita dibawah tekanan deadline. Jika hal itu dilakukan oleh wartawan, maka ia akan terhindar dari kesalahan dalam menulis berita yang bisa berakibat fatal dan dapat merugikan sumber berita. Hal yang tak kalah penting dalam menulis berita ialah tidak melupakan unsur 5 W + 1 H dan tidak terjebak adanya opini pribadi. Sehingga sebagai insan pers kita tetap menjaga independensi.*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *