Fenomena Raja “Angling Dharma” Pandeglang

Oleh : HAIRUZAMAN.
(Editor In Chief Harianexpose.com)

BELAKANGAN ini publik dikejutkan dengan kemunculan kerajaan “Angling Dharma” di Kampung Salangan, Desa Pandat, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Banten. Sosok Baginda Jamaludin Firdaus yang dijuluki sebagai Raja Angling Dharma, sontak namanya menjadi terkenal. Apalagi media massa, baik itu cetak maupun elektronik, akhir-akhir ini gencar memberitakan sosok Raja Angling Dharma Pandeglang tersebut.

Diketahui, sosok Raja Angling Dharma mempunyai empat orang istri. Tak pelak, sehingga ia menjadi sorotan publik. Selain itu, Raja Angling Dharma Pandeglang juga gemar mengoleksi benda-benda kuno dan barang antik kerajaan. Barang-barang kuno kerajaan itu tampak menghiasi rumahnya yang tampak nyentrik.

Pasca nama Raja Angling Dharma marak diperbincangkan publik, saat ini rumahnya pun tampak dijaga ketat para pengawalnya. Tak ayal, para pemburu berita pun sulit untuk menembus sosok Raja Angling Dharma tersebut. Apalagi ia kini seolah menghindar dari kejaran kalangan jurnalis usai namanya membuat heboh di jagat maya.

Namun, dibalik semua itu ada sisi menarik yang patut diteladani dari sosok Angling Dharma. Ia misalnya, tak segan-segan untuk merogoh koceknya dalam-dalam guna membantu masyarakat kalangan strata bawah. Tercatat sebanyak 30 unit rumah warga kurang mampu yang dibantu oleh Angling Dharma melalui program bedah rumah. Saat ini rumah-rumah warga yang semula tak layak untuk dihuni itu kini tampak permanen. Puluhan rumah warga yang dibangun oleh Angling Dharma itu mayoritas berada di wilayah Pandeglang Selatan.

Kehidupan warga wilayah Pandeglang Selatan yang rumahnya tak layak huni itu ternyata mengusik Raja Angling Dharma untuk peduli terhadap kehidupan masyarakat kecil. Sebab, program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) yang selama ini digelontorkan pemerintah ternyata belum maksimal dan dirasakan oleh semua kalangan masyarakat strata bawah. Sebab, faktanya masih banyak warga yang tinggal dan menempati rumah kumuh dan yang tidak layak untuk dihuni.

Kepedulian sosial yang dilakukan oleh Angling Dharma itu sejatinya menjadi tamparan terutama bagi Pemerintah Kabupaten Pandeglang dan Provinsi Banten. Sebab, ternyata masih banyak warga terutama di wilayah Kabupaten Pandeglang, yang kehidupannya jauh dari kata sejahtera.

Untuk melakukan program bedah rumah melalui bantuan Rutilahu itu, tentu saja Pemerintah Kabupaten Pandeglang maupun Provinsi Banten, harus menggandeng pihak perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Hal itu lantaran Pemkab Pandeglang mempunyai keterbatasan anggaran untuk merealisasikan program bantuan Rutilahu tersebut.

Secara empiris, kehidupan masyarakat di wilayah Banten, ternyata masih banyak yang menempati rumah kumuh dan tak layak huni. Selain dindingnya terbuat dari bilik, sebagian ada pula yang rumahnya yang masih berlantai tanah. Celakanya, atap rumahnya pun bocor dan rumahnya tergenang air apabila hujan turun.

Selama ini, bayangan kita hanya menyaksikan sosok Angling Dharma dengan postur tubuh yang tegap dan gagah perkasa lewat sebuah serial sinetron di televisi. Raja Angling Dharma mempunyai ilmu kanuragan yang begitu tinggi. Sehingga tak mudah untuk dikalahkan oleh musuh-musuhnya. Angling Dharma juga dideskripsikan sebagai Raja yang arif dan bijaksana dalam memimpin di singgasana kerajaan. Sehingga ia begitu sangat disegani oleh semua rakyatnya.

Namun, Angling Dharma di Kabupaten Pandeglang, bukanlah seperti yang kita saksikan pada serial sinetron di televisi. Sebab, Angling Dharma Pandeglang, hanyalah sosok rakyat biasa yang begitu peduli terhadap kehidupan masyarakat kecil di sekitarnya. Barangkali inilah sisi lain dari sosok Angling Dharma yang patut diteladani. Sehingga fenomena Angling Dharma Pandeglang mengusik publik untuk mengetahuinya lebih jauh.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *