Stigma Negatif Pandemi Covid-19 Bagi Dunia Pendidikan

0

Oleh : Teti Khodijah.

(Mahsiswa Kampus Prima Graha Kota Serang)

Pandemi wabah Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) telah dua tahun lamanya dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Hampir semua aktivitas masyarakat dibatasi, termasuk salah satunya dunia pendidikan. Pandemi Covid-19 telah memberikan deskripsi atas kelangsungan dunia pendidikan di masa depan melalui bantuan teknologi (Pembelajaran daring).

Kendati demikian, teknologi tetap tidak dapat menggantikan peran guru, dosen dan proses interaksi belajar antara pelajar dan pengajar secara face to face. Pasalnya, edukasi bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan, melainkan juga tentang nilai, kerja sama, serta kompetensi. Situasi pandemi ini menjadi tantangan tersendiri bagi kreativitas setiap individu dalam menggunakan teknologi untuk mengembangkan dunia pendidikan.
.
Stigma negatif akibat dampak wabah Covid-19 ini juga dapat mempengaruhi dan menurunkan mental para siswa. Karena pada saat pandemi ini berlangsung, peserta didik diwajibkan untuk tetap belajar di rumah saja tanpa batas waktu yang ditentukan. Sehingga membuat para siswa akan kehilangan waktu dan kesempatan untuk berinteraksi sesama teman dan dapat mengurangi interaksi sosialnya.

Pelaksanaan pembelajaran secara daring yang telah dilakukan mayoritas berjalan dengan lancar. Namun, dirasakan sebagian besar dosen dan termasuk saya sendiri sebagai mahasiswa ternyata belajar secara online kurang ideal dibandingkan pembelajaran tatap muka (face to face) secara konvensional di ruang perkuliahan kampus. Komunikasi yang kurang lancar karena jaringan yang kurang stabil dan spesifikasi media yang digunakan menyebabkan materi menjadi sulit diterima dan dipahami, terutama mata kuliah yang berbasis praktikum sangat sulit.

Out put proses pembelajaran secara daring dinilai cukup bervariasi. Mulai dari kurang memuaskan, cukup, hingga baik. Dalam keadaan seperti ini interaksi seorang pengajar dan siswa kurang interaktif dan intens. Pasalnya, siswa hanya mendengarkan apa yang disampaikan guru. Karena itu, seharusnya siswa lebih dilibatkan secara aktif untuk berinteraksi dengan guru atau antar siswa.

Prosentase kemampuan siswa dalam memahami dan mengingat materi apa yang telah dipelajari sebelumnya hanya 5% .Jika mereka sekadar mendengarkan penjelasan guru, maka hubungan yang saat ini terjadi antara guru dan siswa seringkali satu arah. Dimana siswa hanya sekadar mendengarkan apa yang disampaikan guru.

Jika dilihat dari piramida pembelajaran, siswa akan mudah lupa dengan apa yang dipelajari sebelumnya. Ketika mereka hanya mendengarkan penjelasan gur. Sebab, prosentasenya hanya sekitar 5%. Namun karena keadaan pandemi Covid-19, maka interaksi belajar dan mengajar dilakukan secara daring. Sehingga kurangnya pendekatan antara pengajar dan murid hampir seluruh tingkatan pelajar merasakan hal tersebut.

Saya sendiri merasakan bahwa interaksi anak sekolah usia dini juga terhambat yang seharusnya mereka berinteraksi bersama teman dan belajar bersama. Namun, mereka harus belajar melalui online. Hal tersebut juga dapat mempengaruhi anak usia dini, tidak heran jika mereka sudah mengenal teknologi di usia tersebut .

Wabah Covid-19 benar-benar mempengaruhi berlangsungnya dunia pendidikan. Dimana segala sesuatu aktifitas masyarakat dibatasi melakukan belajar secara online. Hal ini sangat memprihatinkan karena tidak semua murid bisa melakukan proses pembelajaran secara online. Karena ada saja beberapa siswa yang memiliki kendala dalam hal teknologi, akses jaringan dan orang tua yang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan anak mereka dalam belajar secara online . Selain itu, juga siswa dalam pembelajaran online tidak terjamin. Bisa saja mereka kesulitan dalam memahami materi dari guru. Proses belajar yang cukup lama waktunya membuat siswa merasa jenuh dan bosan tanpa adanya aktivitas normal. Maka siswa mudah jenuhm

Selain itu bisa saja siswa tidak terpantau baik mereka hanya mengisi daftar hadir tanpa memahami materi dari guru. Saya sendiri merasakan bahwa belajar via online sendiri seperti belajar bohong ingin berusaha fokus tapi ada saja hambatan. Misalnya ketika saya sedang belajar online, orang tua saya tidak mengerti yang sedang saya lakukan. Mereka terkadang menyuruh saya ke pasar, mencuci dan lain sebagainya. Dalam situasi seperti ini pembelajaran benar-benar sangat tidak kondusif. Fokus dalam belajar teralihkan oleh kegiatan lain. Hal ini juga dapat memicu rasa malas dalam belajar.

Sebenarnya kendati banyak sekali keluhan saat belajar online, tetapi di sisi lain ada juga dampak positif yang dapat dilihat dari pembelajaran daring ini. Salah satunya adalah hemat waktu. Selain itu, dengan adanya pembelajaran daring banyak aplikasi pembelajaran yang meningkatkan kualitasnya, Membuat mereka dapat mengetahui media online yang dapat menunjang sebagai pengganti pembelajaran di kelas secara langsung, tanpa mengurangi kualitas materi pembelajaran dan target pencapaian dalam pembelajaran.

Adapun berbagai media online yang digunakan saat daring yaitu e-learning, zoom, gmeet, whatsapp, classroom, youtube. Dengan menggunakan media online tersebut, maka secara tidak langsung kemampuan menggunakan serta mengakses teknologi semakin dikuasai oleh siswa maupun guru.
Melihat dan merasakan hal tersebut di perlukan sebuah strategi baik dari guru atau murid agar proses belajar berjalan baik. Seperti guru mencoba membuka kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan walaupun dilakukan secara online. Hal tersebut dapat membuat siswa lebih semangat untuk melaksanakan pembelajaran.

Siswa juga harus meningkatkan minat dan antusias dalam proses belajar, mencari referensi dari berbagai sumber untuk menambah pengetahuan. Untuk pemerintahan juga kami sebagai siswa mengharapkan agar proses pembelajaran berjalan seperti semula agar generasi yang akan datang memiliki pengetahuan yang luas. Karena pemuda sekarang adalah pemimpin yang akan datang.

Hadirnya wabah Covid-19 di tengah-tengah masyarakat bisa kita ambil sebuah pelajaran terutama dalam hal pendidikan. Karena semua upaya yang dilakukan pemerintahan juga untuk memberi akses pembelajaran tetap berjalan meski dengan fasilitas yang berbeda. Kita sebagai seorang pelajar meski dalam keadaan yang cukup sangat berbeda harus membentuk pendirian yang kuat dalam menuntut ilmu.

Kondisi saat ini bukan hanya mempengaruhi kemerosotan pembelajaran dalam hal lain seperti ekonomi dan lain sebagainya ikut merosot. Bahkan, saat ini banyak yang kesulitan untuk mencari pekerjaan tetap menjaga kesehatan dan silaturahmi. Kendati pengaruh Covid-19 sangat besar, kita sebagai penerus bangsa harus tetap memiliki pendirian yang antusias dalam hal mencari ilmu apa pun kendalanya. **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *