Kado Hari Lahir Pancasila : “Eksistensi Pancasila di Era Reformasi”

0

Oleh : Ram Ariff.

(Pemerhati Politik Pembaharuan)

PANCASILA merupakan konsensus bangsa yang disusun oleh tokoh-tokoh bangsa pada masa kemerdekaan. Nilai-nilai yang dianut merupakan representatif dari kolektifitas nilai universal kehidupan. Nilai utama yang diusung adalah nilai keagamaan tercermin dalam sila pertama yaitu, Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini jelas dinyatakan bahwa negara Indonesia merupakan negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya, Negara mengakui adanya Agama sebagai pedoman hidup warga negara yang juga tercermin dan diatur dalam UUD 1945 pasal 29.

Penyimpangan terhadap Sila Pertama
Dewasa ini, kita dihadirkan oleh fenomena global yang mengharuskan agama dimusuhi, dihapuskan dan ditinggalkan. Seolah kehidupan ini dijalankan hanya dengan nafsu, emosi, dan semata urusan dunia saja. Demikian pula yang terjadi di Indonesia di era reformasi ini.

Dimana Islamphobia merebak dan disokong oleh berbagai media mainstream, pemasaran LGBT, kriminalisasi ulama, sekulerisasi kehidupan, penistaan agama, dan masih banyak lagi masalah yang lainnya. Hal ini merepresentasikan realutad penodaan atas Pancasila yang jelas-jelas ada dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Belum lagi kemunculan aliran kepercayaan yang merusak ajaran agama tertentu. Tak ayal, sehingga timbullah kemarahan dari penganut ajaran agama tersebut. Skenario untuk memudarkan nilai-nilai agama pun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara terasa kental. Sepertinya negara mendukung akan terjadinya hal-hal tersebut. Misalkan, maraknya minuman keras yang memabukkan, prostitusi terselubung dan terbuka, narkoba, perzinahan yang merajalela, dan aturan yang dibuat jelas kontra produktif dengan nilai-nilai agama yang di anut di Indonesia.

Eksistensi Pancasila Sekedar Hapalan.

Dahulu masih teringat ketika duduk di bangku SMP, semua murid diminta untuk mengjafalkan butir-butir Pancasila yang merupakan cerminan nilai-nilai Pancasila sesuai dengan nilai-nilai agama dan sosial budaya Indonesia. Generasi zaman itu setidaknya teringat ada nilai-nilai dalam butir-butir Pancasila.

Mari tengok generasi zaman “Now” yang lahir hanya diasupi teks Pancasila berupa 5 sila. Apalagi minim pengetahuan sejarah, ajaran agama pun minim di sekolah. Celakanya, mereka terjejali informasi bebas dari dunia maya tanpa punya saringan serta pondasi berpikir. Alhasil hadirlah generasi yang pintar, namun hilang arah, yang serba tahu tapi tidak tahu tujuan, dan pandai berbicara namun miskin etika. Sepatutnya, para pejabat dan elite politik sudah mewaspadai adanya generasi “Zong” ini.

Klaim Pancasila Sebagian Kelompok.

Pancasila adalah produk bangsa Indonesia dan hanya dimiliki oleh semua warga negara Indonesia saja. Sehingga klaim dari sebagian bahwa Pancasila miliknya adalah sesuatu yang tidak mendasar. Inilah dasar timbulnya pecah-belah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Perpecahan atau terjadinya pecah-belah itu karena sebagian merasa lebih dari yang lain.

Mereka lebih menganggap dirinya lebih toleran, lebih memahami kemajemukan, lebih plural, lebih menghargai perbedaan, dan seterusnya. Padahal Pancasila adalah untuk semua warga Indonesia. Dalam Pancasila ada nilai saling menghargai, saling menghormati, toleransi, persatuan, musyawarah dan masih banyak nilai yang juga sejalan dengan nilai-nilai agama dan sosial budaya yang ada.

Musuh Utama Pancasila.

Jelas bisa dipahami bahwa musuh besar Pancasila adalah para penghianat bangsa, para pelaku kejahatan, para pelaku korupsi, dan para pelaku perusak persatuan. Karena mereka jelas melawan Pancasila dengan memudarkan esksitensi Pancasila Sehingga negara ini menjadi rusak secara sistematis, masif, dan terstruktur serta berdampak jangka panjang juga kemungkinan bisa permanen. Perlu konsensus baru untuk menghadapi masalah besar bangsa ini. Perlu kearifan kolektifitas besar dari para guru bangsa dan elit politik untuk menegaskan kembali esksistensi Pancasila. Sehingga tidak ada lagi penodaan dan penistaan agama, pecah belah, saling menyalahkan, saling melabeli, dan adanya perilaku menyimpang di tengah-tengah masyarakat serta para penghianat yang mengambil keuntungan pribadi dan kelompok dari selingkuh dengan pihak asing.

Kembali kepada Jati Diri Bangsa.

Pancasila sebagai konsensus ini perlu disadari betul sebagai nilai-nilai yang dilaksanakan oleh warga negara secara konsisten. Negara melalui Pemerintah mendukung agar pemeluk agama dan kepercayaan yang diakui oleh negara dapat menjalankan agama dan kepercayaannya itu. Pemerintah juga melawan segala bentuk penodaan dan penistaan agama serta menjaga semua pemimpin agama dan penganut agama serta kepercayaan yang diakui.

Pemerintah juga bertindak tegas pada kelompok yang merusak ajaran agama tertentu yang diakui. Inilah salah satu contoh esksistensi Pancasila hadir dalam kehidupan karena kerukunan antar umat beragama sudah terjadi. **

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *