Wartawan Tak Boleh Pakai Sendal Jepit?

0

Oleh : Hairuzaman.

(Editor In Chief Harianexpose.com)

“Wartawan itu tidak boleh pakai sendal jepit saat melakukan reportase di lapangan”. Begitu kalimat yang dilontarkan salah seorang Pemimpin Redaksi salah satu media online kepada wartawannya. Saya pun maklum, lantaran di era reformasi ini banyak yang menjadi Pemimpin Redaksi secara tiba-tiba. Celakanya lagi, ada pula yang sama sekali tidak berbekal ilmu pengetahuan di bidang jurnalistik dan pengalaman selama puluhan tahun sebagai seorang redaktur maupun wartawan. Sebab syarat untuk menjadi seorang Pemimpin Redaksi itu ia terlebih dahulu harus menggeluti sebagai redaktur atau wartawan minimal selama 15 tahun. Persyaratan itu berlaku bagi Pemimpin Redaksi ketika masih di era Orde Baru.

Saya hanya terdiam seribu bahasa ketika wartawan dilarang memakai sendal jepit saat melakukan reportase di lapangan. Sebab, saya tidak mau mempermalukan seorang Pemimpin Redaksi di hadapan wartawannya. Bahkan, saya pun pura-pura tidak mendengarkan soal sendal jepit dan berbagai atirbut tetek-bengek wartawan lainnya saat melakukan reportase di lapangan.

Penampilan wartawan di era reformasi sekarang ini memang jauh berbeda dengan wartawan di era Orde Baru. Bahkan, ada pula wartawan yang memakai baju seragam media tertentu. Ada pula yang setiap harinya mengenakan atribut organisasi wartawan, mungkin supaya tidak dicap sebagai wartawan “abal-abal” atau wartawan “muntaber” (Muncul tanpa berita) maupun berbagai istilah lainnya. Supaya kelihatan lebih nyentrik lagi, biasanya Kartu Pers (ID Card) acapkali melingkar dilehernya.

Dalam pikiran saya saat itu timbul pertanyaan, bukankah dalam reportase itu ada istilah “investigative reporting?” Artinya, ketika wartawan tengah mengumpulkan data dan fakta yang terjadi di lapangan, maka sebisa mungkin ia harus merahasiakan profesinya sebagai seorang wartawan. Sehingga ia akan bisa mengumpulkan data dan fakta di lapangan secara akurat. Jadi wartawan itu harus bisa melakukan penyamaran untuk melakukan penyelidikan terhadap suatu kasus layaknya seorang spionase.

Tentu saja data dan fakta yang terjadl di lapangan tak mungkin bisa ditembus dan diperoleh manakala seorang wartawan terlebih dulu membuka identitasnya. Tak ayal, akibatnya sumber berita pun tak mau membuka mulutnya atau “off the record”. Bahkan, boleh jadi sebelum bertemu dengan wartawan, sumber berita justru mengambil langkah seribu lantaran yang datang adalah seorang wartawan. Akibatnya, seorang wartawan gagal untuk memperoleh data dan fakta yang terjadi di lapangan.

Dalam melakukan investigative reporting di lapangan, sebisa mungkin seorang wartawan harus mampu untuk merahasiakan identitasnya. Bahkan jika perlu dengan memakai sendal jepit atau pakaian yang tidak menimbulkan orang menjadi curiga terhadap profesi wartawan. Semua atribut berlabel wartawan sebisa mungkin harus ditanggalkan. Mulai dari ID Card, baju dengan bertuliskan wartawan maupun atribut lainnya.

Sementara itu, secara sederhana definsi investigative reporting atau Jurnalisme investigasi adalah kegiatan mengumpulkan, menulis, mengedit, dan menerbitkan berita yang bersifat investigatif, atau sebuah penelusuran panjang dan mendalam terhadap sebuah kasus yang dianggap memiliki kejanggalan. Selain itu, investigasi merupakan penelusuran terhadap kasus yang bersifat rahasia.

Dari definisi investigative reporting di atas, maka dapat kita tarik suatu konklusi bahwa untuk mengumpulkan berita yang bersifat investigasi, maka diperlukan penelusuran yang intensif terhadap suatu kasus tertentu. Selain itu, investigative reporting merupakan aktifitas jurnalisme yang lebih bersifat rahasia untuk memperoleh data yang akurat. Sehingga dalam melakukan investigative reporting, seorang wartawan harus melakukan penyamaran layaknya seorang spionase. Ia harus bisa merahasiakan identitasnya sebagai seorang wartawan. Apabila perlu, wartawan juga boleh memakai sendal jepit untuk menutupi identitasnya. **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *