Program ANBK Numerasi di SD, Antara Harapan dan Empirik

0

Oleh : Hairuzaman.

(Pemerhati Non Formal Education dan Wakil Pemimpin Redaksi Tabloid VISUAL Jakarta)

Program Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) yang diberlakukan oleh Pemerintah untuk Sekolah Dasar (SD), ternyata menuai masalah. Pasalnya, program ANBK itu tidak di dukung oleh sarana dan prasarana yang memadai yang dimiliki oleh hampir semua sekolah. Akibatnya, program ANBK itu berjalan terseok-seok dan tidak relevan dengan keinginan dan harapan pemerintah maupun masyarakat.

Apabila dilihat secara empiris, maka regulasi yang diaplikasikan oleh pemerintah itu realitanya banyak mengalami kendala dan tak berjalan mulus relevan dengan harapan semua pihak. Baik itu, pemerintah, pihak sekolah (dewan guru), maupun orang tua siswa yang ikut terlibat aktif dalam sistem pendidikan nasional, termasuk Komite Sekolah.

Kita pun tak bisa membayangkan, apabila program ANBK yang diaplikasikan pada Sistem Pendidikan Formal (Baca sekolah negeri-Red) yang notabene milik pemerintah itu tidak berjalan sesuai dengan harapan. Lalu bagaimana pula program ANBK itu jika diaplikasikan pada sistem pendidikan swasta yang tidak didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Tentu saja, akan lebih sulit lagi ANBK diperluas pada Sistem Non Formal Education (Pendidikan Non Fornal) sebagai satuan pendidikan tertua dan telah mengakar kuat di tengah-tengah masyarakat.

Sebagai anak bangsa, tentu saja kita pun merasa gamang, jika pemerintah terlalu memaksakan kehendaknya guna mengaplikasikan pogram ANBK tersebut. Kendati tujuan program ANBK di sekolah-sekolah dasar itu memang dinilai sebagai sebuah terobosan yang bersifat inovatif agar para siswa tidak gagap terhadap teknologi dalam era digital sekarang ini.

Sejatinya, sebelum mengaplikasikan program ANBK itu, pemerntah terlebih dulu melakukan eksperimen dan memikirkan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sekolah-sekolah dasar. Sebab, berdasarkan realita di lapangan, ternyata mayoritas sekolah dasar tersebuf tidak mempunyai komputer yang memadai dan sesuai dengan jumlah siswa. Tak pelak lagi, akhirnya pihak sekolah pun harus meminjam komputer agar bisa memenuhi kebutuhan dan dapat melaksanakan program ANBK yang dicanangkan oleh pemerintah tersebut

Kendala lain yang di hadapi para siswa ketika tengah mengerjakan soal numerasi acap kali terkendala okeh jaringan. Pasalnya, jaringan yang sering eror menjadi tidak efektif dalam mengerjakan soal-soal numerasi melalui jaringan komputer tersebut.

Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) adalah pengganti Ujian Nasional Berstandar Komputer (UNBK), bagi siswa Sekolah Dasar. Namun, ANBK tersebut pada ghalibnya tidak dijadikan sebagai standar kelulusan siswa satu-satunya.

ANBK hanya sebagai program pemerintah untuk penilaian pembelajaran siswa pada suatu Sekolah Dasar (SD). Hanya saja, program ANBK dengan mengerjakan soal numerasi itu dinilai lebih efektif apabila di dukung oleh sarana dan prasarana yang memadai.

Namun, sebagian besar sekolah mengeluh terkait keberadaan komputer yang dimiliki dimana jauh dari harapan. Tak ayal lagi, sehingga pihak sekolah harus memutar otak guna memenuhi serta melaksanakan program ANBK tersebut.

Apabila ditarik konklusi dari permasalahan di atas, maka akhirnya semua itu berpulang kepada pemerintah sebagai pengambil kebijakan (Decesion Makers) terkait pengadaan sarana dan prasarana untuk sekolah. Sebab, tidak semua siswa mempunyai komputer lantaran orang tua siswa secara ekonomi tergolong kategori keluarga yang tidak mampu.

Tentu saja pasca pemerintah mengaplikasikan ANBK numerasi di tingkat Sekolah Dasar itu sudah bisa mengevaluasi sejauhmana efektifitas program tersebut. Berbagai Hipotesa pun bisa dilakukan oleh pemerintah, termasuk kendala-kendala yang dihadapi oleh satuan pendidikan formal. **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *