Budaya Menonton Film di Masa Kini

0

Oleh: Diva Yasmin Ramadhan

(Mahasisiwi Prodil Imu Komunikasi Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ilmu Politik Untirta Banten).

Perubahan zaman saat ini semakin terasa, terutama dalam hal menonton film. Dari yang awalnya kita hanya bisa menonton film di layar lebar, layar tancap atau bioskop. Aka tetapi, lama-kelamaan menjadi bisa menonton film melalui televisi, menggunakan VCD atau DVD. Bahkan ada juga beberapa stasiun televisi yang suka menayangkan film-film yang pernah ditayangkan di layar lebar, namun hanya di hari-hari tertentu, salah satu contohnya adalah ketika hari libur sekolah atau hari-hari libur nasional.

Pada saat ini, adanya modernisasi dan globalisasi mempengaruhi cara bagaimana kita bisa menonton film. Dengan adanya internet, kita bisa menjangkau apa yang ingin kita lihat saat ini. Hal itu memudahkan kita untuk menonton film di mana saja dan kapan saja sesuka hati kita. Karena dalam mengakses internet tidak ada batasan tempat maupun waktu. Apalagi saat terjadi pandemi COVID-19, kita tidak bisa ke luar rumah untuk menonton film secara langsung ke bioskop. Pasalnya, seluruh bioskop yang ada di Indonesia tidak beroperasi.

Karena itu, industri film di seluruh dunia di masa kini mulai mengembangkan platform untuk menonton film secara daring. Kini sudah banyak platform streaming film online yang tersedia., Sebagai contoh, ada aplikasi Netflix, Disney hotstar, HBO GO, IQIYI, vidio, We TV, dan masih banyak lagi berbagai platform menonton film digital lainnya.

Dengan adanya berbagai platform yang sudah disebutkan, film-film yang sebelumnya tidak bisa tayang di bioskop karena alasan pandemi COVID-19, kini menjadi memiliki kesempatan untuk ditayangkan, meskipun tidak di bioskop. Kita kini bisa menonton film yang kita inginkan dengan biaya yang tentunya juga lebih sedikit.
Hal-hal tersebut membuat kebiasaan menonton televisi analog saat ini sudah mulai ditinggalkan oleh orang-orang. Kebanyakan yang masih menonton televisi hanyalah orang-orang tua yang tidak begitu mengerti gadget atau anak kecil. Orang-orang, terutama remaja kini lebih memilih untuk menonton film melalui platform daring menggunakan gadget. Karena pilihan filmnya pun beragam, dari mulai film untuk anak-anak, hingga film untuk orang dewasa, tersedia juga berbagai pilihan series yang bisa ditonton saat sedang memiliki waktu luang.
Adanya platform menonton film digital ini juga menimbulkan tren menonton film yang baru, terutama pada saat pandemi dan PPKM masih berlangsung. Tren tersebut adalah binge watching atau movie marathon. Binge watching ini timbul karena adanya kebiasaan orang-orang yang menonton series atau berbagai film yang memiliki sekuel secara sekaligus atau tanpa adanya jeda waktu untuk berhenti karena pada masa PPKM tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan kecuali bekerja atau sekolah dari rumah karena tidak berpergian kemana-mana mengingat takut akan terpapar virus COVID-19, oleh karena itu kebanyakan orang memilih untuk hanya menonton film atau series yang ada di platform digital tersebut untuk menghilangkan rasa bosan.
Di waktu sekarang ini, bioskop-bioskop yang ada di Indonesia sudah kembali dibuka dan beroperasi, keadaan pun sudah kembali menjadi normal. Namun dengan kembalinya keadaan menjadi seperti sedia kala juga membuat banyak orang menjadi kurang memiliki waktu atau tidak sempat pergi menonton film secara langsung ke bioskop untuk sekedar menyegarkan pikiran, karena itu film yang ingin ditonton di bioskop menjadi terlewat karena masa tayang di bioskopnya sudah habis. Maka, di saat yang seperti ini lah, fungsi dari berbagai platform digital untuk menonton film ini lebih ditonjolkan, kita bisa menunggu untuk film yang tidak sempat kita tonton di bioskop sampai tersedia di berbagai platform menonton film digital dan menontonnya dari rumah saja, kapan saja.
Akan tetapi dengan adanya platform menonton film digital ini juga terdapat berbagai kelemahan, salah satu contohnya yaitu maraknya kasus pembajakan film. Adanya berbagai platform digital ini semakin memudahkan para oknum untuk membajak film-film yang ada. Namun, untuk mendukung industri perfilman dan perekonomian, sebisa mungkin kita harus menghindari untuk menonton film bajakan hanya karena tidak diperlukan mengeluarkan biaya untuk menonton film tersebut. Cara untuk kita bisa mendukung dan meningkatkan perekonomian di Indonesia adalah dengan cara menonton film yang diproduksi oleh anak bangsa di berbagai platform menonton film digital yang tersedia. Meskipun platform-platform tersebut adalah platform menonton film yang berbayar, tidak perlu khawatir untuk tidak bisa menonton karena adanya masalah biaya. Karena harga dari berbagai platform tersebut cukup terjangkau dan terbilang cukup murah karena hanya dengan berlangganan platform menonton film itu, kita sudah bisa mengakses atau menonton film apa saja yang kita ingin tonton. Platform-platform tersebut juga banyak yang menyediakan potongan harga.
Melihat dari apa yang sudah dijabarkan di atas, kita bisa mengetahui bahwa pada zaman sekarang teknologi dan informasi yang ada telah berkembang dengan cukup pesat. Sehingga, industri film yang ada juga harus mengikuti alur zaman yang sudah berubah untuk melestarikan industri perfilman. Saat ini sudah banyak platform digital untuk menonton film yang bisa digunakan untuk mewadahi film-film yang tidak bisa tayang di bioskop karena adanya berbagai alasan. Cara yang bisa dilakukan untuk mempromosikan film yang tayang di platform menonton film digital juga ada banyak, misalnya dengan promosi melalui Instagram, twitter, tiktok, dan lain-lain. Dengan begitu, para penonton juga semakin tertarik untuk menonton film dari berbagai platform digital untuk menonton film.
Berbicara soal ketertarikan masyarakat untuk menonton film, dunia perfilman di Indonesia saat ini menjadi semakin berkembang daripada saat-saat sebelumnya. Beberapa contoh besarnya adalah film KKN di Desa Penari yang tayang pada tahun 2022 menjadi film dengan penjualan tiket terbanyak di antara film-film yang sudah pernah tayang di Indonesia, penjualan tiketnya mencapai 9,23 juta tiket yang terjual, lalu ada film Ngeri-Ngeri Sedep yang mencapai penjualan sebanyak 2,5 juta tiket, dan ada juga film Mencuri Raden Saleh yang mencapai 2,2 juta penjualan tiket. Kira-kira apa yang menyebabkan hal itu terjadi? Kita kupas bersama-sama.
Mulai dari film KKN di Desa Penari, film ini diangkat dari sebuah utas di aplikasi twitter yang menceritakan pengalaman orang-orang yang melakukan KKN di sebuah desa dan menjadi terlibat dengan suatu kasus mistis karena melakukan hal-hal yang tidak baik. Film ini digandrungi oleh berbagai kalangan mulai dari remaja sampai orang dewasa karena sejak saat cerita ini diunggah di media sosial twitter, cerita ini sudah viral. Lalu alasan selanjutnya adalah, film ini sangat ditunggu-tunggu untuk segera tayang oleh masyarakat karena penayangannya yang terus ditunda dikarenakan adanya pandemi COVID-19.
Selanjutnya kita beralih ke film Ngeri-Ngeri Sedep, film ini cocok untuk ditonton bersama keluarga karena menceritakan tentang bagaimana orang tua yang merindukan anak-anak mereka yang ada di perantauan, lalu demi membuat anak-anaknya pulang kampung, kedua orang tua ini memilih untuk berpura-pura bercerai agar anak-anaknya mau untuk pulang ke rumah. Film ini pun kini sudah tayang di platform menonton digital Netflix.
Lalu contoh yang terakhir adalah film Mencuri Raden Saleh. Film ini merupakan film yang sangat digandrungi oleh remaja saat ini. Film ini merupakan film dengan alur yang sangat bagus dan tidak membosankan, selain itu, film ini juga menghadirkan aktor dan aktris pemeran utama yang terkenal dikalangan remaja di Indonesia. Sehingga bahkan ketika filmnya sudah tidak tayang di bioskop, film ini masih mendapatkan hype yang cukup banyak dari remaja-remaja di Indonesia. Kesan yang diberikan oleh para pemeran film Mencuri Raden Saleh ini sangat kuat sehingga menempel di kepala para remaja di Indonesia.
Jika kita melihat penjelasan mengenai beberapa film yang tayang di tahun 2022 di atas, bisa disimpulkan bahwa minat menonton masyarakat di Indonesia berbeda-beda meskipun yang menonton ketiga film tersebut banyak juga. Bisa diambil contoh dari film Mencuri Raden Saleh yang penontonnya kebanyakan remaja karena mereka menyukai aktor dan aktris dari film tersebut dan karena alur ceritanya juga yang bagus. Bahkan para penonton film Mencuri Raden Saleh ini sangat antusias menunggu film ini untuk ada film keduanya.
Dari berbagai contoh yang sudah diberikan, dapat dilihat bahwa budaya menonton film di saat ini sudah berubah, tidak seperti di era sebelum adanya pandemi COVID-19. Orang yang akan pergi ke bioskop untuk menonton film akan lebih memilih-milih terlebih dahulu film apa yang ingin ditonton, jika tidak begitu menyukai genre atau pemeran dari film tersebut, maka masyarakat akan lebih memilih untuk menonton dari rumah saja melalui platform menonton digital

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *