Surat Terbuka Pecinta Sepak Bola untuk Pengurus PSSI

0

Oleh : M. Taufik Budi Wijaya.

“Memimpin PSSI tidak mudah. Tidak seperti dibayangkan orang. Tidak cukup dengan nyali. Tidak cukup…”

Dear Pak Erick Thohir,

Semoga kabar baik dan sehat selalu. Perkenalkan saya salah satu rakyat kecil yang kebetulan jatuh cinta dengan sepak bola khususnya saat Tim Nasional Indonesia senior sampai kelompok umur berlaga. Lewat surat terbuka ini izinkan saya menyampaikan unek-unek kepada Anda soal kondisi sepak bola kita.

Sengaja saya membuka tulisan ini dengan mengutip kalimat yang dilontarkan mantan Ketua Umum PSSI Nurdin Halid saat wawancara dengan CNN Indonesia TV seusai bapak terpilih sebagai Ketua Umum PSSI baru Kamis (16/2) lalu di Kongres Luar Biasa PSSI.

Pernyataan Nurdin mengingatkan saya dengan pernyataan Pak Erick kepada wartawan saat mendaftar sebagai Ketua Umum PSSI.

“Sudah banyak teori dalam perbaikan sepak bola Indonesia. Betul enggak? Banyak teori, banyak konsep. Sebenarnya yang perlu dilakukan adalah kita bernyali untuk sepak bola yang bersih dan berprestasi. Itu yang terpenting.”

Saya tak ragukan semangat & niat baik Pak Erick. Berupaya untuk memperbaiki kondisi sepak bola Indonesia yang centang-perenang. Dari pemberitaan, saya tahu track record Pak Erick di dunia sepak bola. Bukan “anak kemarin sore” atau figur “kaleng-kaleng”.

Saya sangat respek. Menaruh hormat atas pencapaian dan eksistensi Anda berkecimpung di bisnis olah raga khususnya sepak bola dalam dan luar negeri. Saya sebut beberapa diantaranya. Anda pernah menjadi pemilik saham mayoritas klub besar di Liga Italia sekaligus Presiden Klub Inter Milan. Terbaru Anda memiliki saham di klub Persis Solo dengan menggandeng putra Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kaesang Pangarep.

Kembali ke pernyataan Nurdin Halid. Terlepas rekam jejak saat memimpin PSSI periode 2003-2011 yang dinilai sebagian kalangan buruk, apa yang ia sampaikan sebuah peringatan yang mesti direspons positif.

Membenahi kompleksitas sepak bola tanah air tak sekadar bermodalkan nyali atau keberanian semata.

Langkah urai benang kusut.

Saya tak tahu Anda harus mulai bekerja dari mana. Urai satu persatu benang kusut persepakbolaan kita. Langkah awal Anda, yang akan mendengarkan masukan para pemangku kepentingan sepak bola usai terpilih di PSSI-1, salah satu langkah yang baik.

Setelah menyerap aspirasi, perlu ditindaklanjuti dengan langkah taktis dan strategis mewujudkan asa jutaan pecinta olah raga gocek si kulit bundar. Teknisnya seperti apa tentu Pak Erick bersama duet wakil Pak Zainudin Amali dan Mba Ratu Tisha dibantu 12 Komite Eksekutif/ executive committee (Exco) PSSI akan mampu menyiapkan formulanya.

Sebagai gambaran umum dan hal ini sering disampaikan para pecinta dan pemerhati sepak bola nasional. Berikut persoalan besar sepak bola kita yang saya catat.

Membersihkan mafia pengaturan skor pertandingan dan belum optimalnya pembinaan usia dini. Hal lain, kualitas kompetisi Liga 1, 2 sampai 3 yang masih buruk. Termasuk kualitas dan kepemimpinan wasit di lapangan hijau. Tak kalah pentingnya Timnas Indonesia perlu memiliki lapangan dan fasilitas pendukung yang memadai sesuai standar pemusatan latihan (training center) internasional.

Terkait pembinaan sepak bola usia dini (kelompok umur) sampai profesional, sejak 2017 PSSI sudah memiliki kurikulum pembinaan sepak bola khas Indonesia. Dirumuskan dalam Filanesia atau Filosofi Sepak Bola Indonesia.

Mengutip website PSSI, Filanesia adalah sebuah filosofi yang akan menjadi fondasi dan karakter sepak bola Indonesia, baik untuk pembinaan usia dini sampai profesional dari segi individu maupun tim.

Jika Filanesia dinilai belum baik terutama implementasinya di lapangan, maka lakukanlah penyempurnaan. Jika dinilai tidak pas atau tak relevan lagi diterapkan dengan kondisi sepak bola modern, silakan dirumuskan kurikulum sepak bola yang baru. Demi perbaikan kualitas sepak bola kita.

PSSI bukan kendaraan politik
Pak Erick yang baik,

Saya membaca berita bahwa Presiden Jokowi tak persoalkan posisi Anda sebagai Menteri Negara BUMN. Saya khawatir akan terjadi konflik kepentingan (conflict of interest). Selain Anda tak akan fokus menyelesaikan satu persatu masalah di federasi dan sepak bola kita.

Presiden Jokowi juga sudah memberikan pesan kepada Anda dan jajaran untuk lakukan reformasi total di PSSI. Oleh sebab itu perlu konsentrasi dan fokus bekerja. Jika Anda setengah-setengah bekerja, akibat waktu habis tersita selesaikan masalah BUMN kita, saya jadi ragu Anda bisa memimpin untuk membenahi masalah di PSSI dan sepak bola kita.

Hal lain yang saya khawatirkan posisi rangkap jabatan yang akan picu konflik kepentingan ini berpotensi langgar aturan atau statuta federasi sepak bola internasional (FIFA). Saya bukan ahli hukum. Dengan pemahaman saya yang terbatas, potensi pelanggaran itu ada merujuk kepada statuta FIFA edisi Mei 2022 yang saya baca. Terutama hal yang bersinggungan dengan pihak ketiga atau kepentingan politik. Ada ancaman hukuman dari FIFA jika anggotanya melanggar.

Jelang memasuki tahun politik 2024, situasi akan makin pelik jika Pak Erick masih rangkap jabatan. Saya tahu Anda disebut-sebut akan maju di bursa kursi calon Wakil Presiden. Sejumlah partai politik sudah lakukan pendekatan dan komunikasi politik dengan Anda.

Hak Pak Erick untuk ikut bertarung di kancah politik. Tapi jangan manfaatkan kursi PSSI yang Anda duduki jadi alat untuk menaikkan tingkat elektoral atau popularitas Anda di mata pemilih khususnya kaum muda pecinta sepak bola.

Belajar dari sejarah kepemimpinan PSSI. Dari sekian banyak ketua umum PSSI yang tak rangkap jabatan, terbukti mereka masih belum mampu atasi persoalan klise sepak bola kita.

Belum mampu memuaskan hasrat pecinta sepak bola agar Timnas Indonesia bisa berprestasi di level ASEAN saja. Sebaliknya hanya masalah yang muncul. Menodai sepak bola kita.

Mulai dari pengaturan skor, adu jotos antara suporter klub atau pemain, wasit yang tak becus memimpin pertandingan sampai Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 jiwa.

Tak sedikit pucuk pimpinan PSSI yang manfaatkan organisasi sebagai alat untuk mencari keuntungan bisnis sampai jadi kendaraan politik.

Pak Erick,

Sepak bola adalah olah raga paling populer di tanah air bahkan dunia. Selepas seharian penuh berkutat dengan kompleksitas hidup saat rehat, para pecintanya seperti saya ingin menikmati pertandingan klub kesayangan sampai Timnas Indonesia. Oleh sebabnya jangan nodai hiburan rakyat ini dengan campur-tangan atau kepentingan politik untuk raup kekuasaan. Biarlah politik bermain di luar lapangan hijau dan PSSI bersih dari tunggangan politik.

Apakah harapan saya terkesan berlebihan? Sekadar pepesan kosong? Sejarah yang akan menjawab nanti. Saya tunggu gebrakan Pak Erick dan jajaran pengurus baru PSSI mewujudkan asa dan menepis kegalauan suporter seperti saya.

Saya dan mungkin jutaan orang Indonesia pecinta sepak bola, sudah lelah dengan kondisi sepak bola kita yang karut-marut. Minim prestasi di level Timnas senior. Saya tahu tak instan untuk membenahi federasi dan sepak bola kita.

Perlu kesabaran dan dukungan pecinta sepak bola untuk menanti hasilnya. Oleh sebabnya perlu pondasi yang kuat untuk membangun sepak bola yang bersih dan berprestasi seperti yang Anda, saya dan kita semua inginkan. Itu semua dimulai dari pemimpin PSSI yang fokus bekerja tidak direcoki kepentingan yang tak ada kaitannya dengan sepak bola.

Selamat bekerja Pak Erick Thohir bersama pengurus baru PSSI. Semoga amanah dan mampu mewujudkan asa pecinta sepak bola. Jangan kecewakan kami.

Desa Singajaya, Jonggol.

18 Februari 2023

(vws/vws)

PROFILE.

M. Taufik Budi Wijaya
Jurnalis. Bekerja di CNN Indonesia. Penikmat musik, film, sepak bola & street photography.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *