Halo Sahabat Wirausaha! Membangun usaha dari nol memang bukan perkara mudah. Kebanyakan orang menganggap bahwa untuk bisa sukses mengembangkan usaha itu cukup dengan keterampilan untuk menjalankan operasional bisnis, seperti memasak, menjahit, mendesain, dan lain-lain.

Memang betul keterampilan itu penting untuk dimiliki, tetapi ada satu hal yang paling mempengaruhi kesuksesan sebuah usaha terutama usaha kecil menengah. Faktor apakah itu? Ya, kepemimpinan!

Pernah tidak Sahabat melihat sebuah restoran yang sebenarnya makanannya enak, sebuah toko baju yang desainnya bagus-bagus, atau sebuah salon yang karyawannya terampil, tetapi tiba-tiba tutup secara permanen? Sahabat pun bertanya-tanya, “Kok bisa tutup ya? Padahal makanan di situ enak”. Nah, ada kemungkinan sumber masalahnya ada di internal bisnis tersebut, dan paling sering penyebabnya adalah kualitas kepemimpinan yang kurang baik.

Keberhasilan usaha kecil sangat bergantung pada kemampuan pemimpin untuk mengelola dan memotivasi karyawan, mempertahankan stabilitas keuangan, dan membuat keputusan strategis. Dalam artikel ini, yuk kita bahas kualitas kepemimpinan yang esensial yang dibutuhkan untuk mengembangkan usaha kecil!

1. Visioner

Seorang pemimpin yang baik harus memiliki visi yang jelas dan menarik untuk masa depan bisnis mereka. Mungkin Sahabat pernah melihat atau bahkan mengenal jenis-jenis pengusaha yang sekedar “Yah yang penting masih untung dan bisa hidup dari bisnis ini”. Tipe-tipe pengusaha seperti inilah yang bisnisnya akan stuck di situ-situ saja. Bahkan mungkin tidak akan siap menghadapi fluktuasi persaingan dan kondisi pasar. Jadi, Sahabat jangan sampai jadi tipe pengusaha yang seperti ini ya!

 

Sahabat harus memiliki kemampuan untuk melihat gambaran besar dan membuat peta jalan untuk sukses. Ini memerlukan pemahaman yang mendalam tentang industri, tren pasar, dan kebutuhan pelanggan. Seorang pemimpin visi memotivasi dan menginspirasi tim mereka untuk bekerja menuju tujuan bersama. Begini contohnya:

Misalkan Sahabat sedang mengembangkan sebuah usaha makanan ringan kemasan. Sahabat bisa membuat visi jangka panjang terlebih dahulu, misalkan ingin menjadi makanan ringan kemasan keluarga Indonesia di tahun 2030. Dari visi tersebut kita bisa mengartikan bahwa Sahabat ingin agar pada tahun 2030 produk Sahabat bisa tersebar di seluruh Indonesia.

Tahap berikutnya barulah Sahabat bisa membuat roadmap atau jalan rencana 5 tahunan untuk bisa mewujudkan itu – atau setidaknya menuju visi tersebut – dengan cara merincinya dalam bentuk misi. Misi ini bisa lebih dari satu, misalkan: Tersedia di setiap cabang Indomaret dan Alfamart se-DKI Jakarta, Memiliki seluruh surat izin dan sertifikasi bisnis makanan, Angka pengembalian produk (karena cacat atau tidak terjual) maksimal 30%.

Barulah dari situ Sahabat bisa rumuskan lagi dalam bentuk tugas-tugas yang lebih kecil agar masing-masing misi tersebut bisa tercapai dalam kurung waktu 5 tahun. Oiya, jangan lupa juga agar visi dan misi ini ditulis ya! Ini penting! Supaya segala kegiatan usaha Sahabat selalu berada dalam koridor visi tersebut hingga akhirnya tercapai. Dan jangan lupa juga untuk mengkomunikasikan visi dan misi ini kepada tim ya!

 

2. Berpikir Strategis

Bisnis itu tidak akan pernah terpisahkan dengan yang namanya kompetisi. Sebagai seorang pemimpin, Sahabat akan dituntut untuk dapat melihat kondisi pasar secara jelas dan menentukan kebijakan strategi yang akan diterapkan agar mampu mengungguli kompetitor.

Apakah Sahabat akan menargetkan segmen yang sudah ramai diincar kompetitor? Atau memilih untuk mencari pasar yang niche atau spesifik? Rekan strategis seperti apa yang dibutuhkan untuk mengungguli kompetitor? Itu semua adalah berpikir strategis dalam cakupan yang luas yaitu cakupan eksternal.

Berpikir strategis juga diperlukan ketika Sahabat menghadapi berbagai masalah internal organisasi. Misalkan ketika Sahabat baru saja mendapatkan pesanan baju sebanyak 1000 potong padahal kapasitas produksi saat ini hanya 500 potong. Bisa juga misalkan ketika pemasok utama bisnis Sahabat tiba-tiba tidak bisa lagi memasok bahan baku padahal Sahabat sudah menerima banyak pesanan. Akan ada berbagai macam jenis masalah yang Sahabat hadapi dan memerlukan kemampuan berpikir strategis untuk menghadapi itu.

3. Membuat Prioritas

Tadi kita sudah membahas mengenai visi dan misi serta turunan target-target yang perlu Sahabat capai sehingga akhirnya bisa mencapai visi yang diinginkan. Turunan target-target tersebut contohnya bisa berupa: mengurus keperluan BPOM, mengurus sertifikat halal, meningkatkan kapasitas produksi hingga 1000 produk per hari, menerapkan standar kontrol kualitas, dan sebagainya yang bisa dilakukan untuk mencapai misi yang telah ditetapkan.

 

Sebagai pengusaha yang baru saja memulai, pastinya Sahabat masih memiliki karyawan dalam jumlah yang terbatas sehingga tidak mungkin semua tugas-tugas tersebut dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Di sinilah kemampuan Sahabat dalam menentukan prioritas dan mendelegasikan tugas akan menentukan kelancaran dan kesuksesan usaha dalam mencapai target tersebut. Sahabat bisa menyusun prioritas menggunakan matriks yang isinya seperti di bawah ini:

Sumber : ntaskmanager.com

Sahabat bisa mengelompokkan tugas-tugas tersebut dalam empat kelompok yang dinilai berdasarkan tingkat kepentingannya dan tingkat urgensinya. Kepentingan dibagi menjadi tugas yang penting atau tidak penting tergantung pada seberapa berdampak negatifkah apabila tugas tersebut tidak dikerjakan. Urgensi juga dibagi menjadi urgen dan tidak urgen tergantung pada seberapa cepatkan tugas tersebut harus diselesaikan sebelum dampak negatif akan terjadi.

Lalu pada akhirnya Sahabat bisa membuat prioritas seperti gambar di atas ini. Bila tugas tersebut penting dan urgen, maka lakukan sekarang juga. Apabila tugas tersebut penting tetapi tidak urgen, maka bisa dikesampingkan dulu untuk saat ini. Bila tugas tersebut tidak penting tetapi urgen, maka Sahabat bisa mendelegasikan tugas tersebut kepada orang lain. Dan apabila tugas tersebut tidak penting dan tidak urgen, maka bisa dibuang atau diabaikan saja.

 

4. Komunikasi

Kemampuan berkomunikasi juga menjadi hal yang penting untuk dimiliki oleh seorang pemimpin. Dalam konteks bisnis, Sahabat perlu mengasah kemampuan komunikasi untuk dua kondisi, yaitu kondisi eksternal dan internal. Yang dimaksud dengan kondisi eksternal adalah ketika Sahabat berkomunikasi dengan pihak di luar bisnis Sahabat, misalkan pemasok, calon investor, bahkan calon pembeli. Sahabat harus bisa mempraktikkan cara berkomunikasi yang efektif sehingga mampu bernegosiasi dengan pemasok, menarik perhatian investor, dan membujuk calon konsumen untuk membeli.

Sedikit berbeda dengan eksternal, komunikasi internal berhubungan dengan anggota tim Sahabat. Untuk ini Sahabat harus bisa mengajak anggota tim untuk memiliki visi dan misi yang sama, memberikan mereka motivasi untuk bekerja secara produktif, bahkan lebih jauh lagi memupuk potensi kompetensi anggota tim sehingga mereka pun bisa bertumbuh sebagai seorang karyawan.

5. Adaptasi

Kemampuan beradaptasi sebenarnya juga erat hubungannya dengan berpikir strategis. Bedanya, Sahabat sebagai seorang pemimpin akan dituntut untuk dapat membimbing bisnis dan seluruh anggota tim untuk sama-sama siap apabila harus menerapkan perubahan yang cukup drastis dalam waktu yang singkat. Hal ini penting karena kondisi pasar, konsumen, bahkan ekonomi akan selalu berubah.

 

Contoh paling mudah adalah ketika baru saja Covid-19 menyebar di Indonesia. Seluruh industri yang ada harus mengikuti peraturan pemerintah yang baru yaitu pembatasan fisik. Imbasnya, konsumen jadi lebih senang berbelanja secara online dan perusahaan-perusahaan pun harus bisa beroperasi dengan lebih dari separuh anggota tim berada di rumah masing-masing. Banyak sekali bisnis yang tumbang di masa-masa tersebut karena tidak mampu beradaptasi dengan cepat terhadap situasi yang baru ini.

Agar bisa menjadi pemimpin yang adaptif, Sahabat perlu menggunakan beberapa poin kemampuan yang sebelumnya sudah dibahas. Berpikir strategis untuk mencari jalan keluar, membuat prioritas dari strategi tersebut, hingga kemampuan berkomunikasi untuk bisa menggerakkan anggota tim menjalani jalur baru untuk keluar dari masalah.

6. Keuangan

Poin yang terakhir ini juga tidak kalah penting. Bahkan, bila kemampuan ini tidak Sahabat miliki, bisa-bisa semua poin kemampuan yang sudah kita bahas tadi akan menjadi percuma lho! Kemampuan yang dimaksud ini adalah kemampuan mengelola keuangan.

Sebagus-bagusnya Sahabat menjadi seorang pemimpin dan mampu menghasilkan keuntungan yang tinggi serta berjalan sesuai dengan sasaran yang telah ditentukan, tidak akan ada artinya jika keuntungan itu ludes gara-gara Sahabat tidak bisa mengelola keuangan.

 

Banyak lho pebisnis yang usahanya tidak berkembang ternyata karena rekening usaha dan rekening pribadi masih jadi satu, karena tidak bisa mengelola arus kas, atau tidak menyediakan dana cadangan usaha. Sahabat harus mengerti dan dapat mengambil keputusan yang tepat ketika akan berinvestasi, mengatur anggaran, dan lainnya.

Itu dia 6 kemampuan pemimpin yang harus Sahabat miliki dan asah agar bisa membawa bisnis Sahabat ke kesuksesan yang lebih besar lagi! Ingat ya, pemimpin itu ibarat nahkoda kapal. Apakah kapalnya akan sampai ke tujuan, muter-muter ga jelas di laut, atau bahkan menabrak karang dan tenggelam, semua tergantung pada nahkoda. Semoga sukses ya! Yuk jadi pemimpin hebat untuk bisnismu