Oleh: BAYU MENTARI.
(Mahasiswa Fakultas Ilnu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Komunikasi Untirta Banten).
Rutinitas individu yang sibuk menjadikan dirinya lebih memilih kehidupan yang simpel. Keinginan
tersebut didukung oleh modernisasi yang ditandai dengan gencarnya inovasi yang dilahirkan oleh ilmu pengetahuan (Knowledge) serta teknologi abad ini. Itulah sebabnya, kenapa fastfood bisa menjadi opsi. Karena disamping dinilai cukup efisien, fastfood juga diyakini memiliki cita rasa yang akrab di lidah rakyat lokal. Sejarah fasfood di Indonesia berawal pada saat Amerika masuk menjadi induk pemrakarsa. Munculnya gerai fastfood pertama di Indonesia seperti, Kentucky Fried Chicken (KFC) dan gerombolannya.
Transformasi life style warga lokal dari memasak sendiri makanan yang akan mereka konsumsi kepada mengonsumsi makanan cepat saji. Hal ini berdampak kepada banyaknya gerai fastfood yang
berkompetisi mengambil hati warga lokal hingga menciptakan strategi tersendiri demi laris manis di pasaran negeri. Kompetisi oleh perusahaan-perusahaan fastfood ini di dukung oleh globalisasi serta liberalisasi perdagangan. Mereka secara agresif memasarkan dagangannya secara global.
Baudrillard : The Consumer Society
Baudrillard ialah seorang teoritis posmodernisme penting berkebangsaan Prancis. Ia memiliki karya yaitu, buku dengan judul “La Societe de Cansommation” yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia memiliki arti masyarakat konsumsi. Baudrillard memulai petualangannya dengan melihat bagaimana pola kehidupan masyarakat konsumsi yang terkena dampak globalisasi di seluruh penjuru dunia. Dimana ternyata globalisasi dalam perkembangannya ditunggangi oleh paham kapitalis.
Efisiensi menjadi senjata bagi kapitalis untuk memperluas pasar, Mereka menciptakan dan menawarkan berbagai macam barang yang bertujuan untuk memudahkan individu dalam menjalani kehidupan. Jika dihubungkan dengan nilai fungsi suatu barang, Kesetaraan tercapai diantara kedua belah pihak, Misal pakaian bagi si kaya dan juga si miskin memiliki nilai fungsi yang sama untuk menutup tubuh mereka. Pemikiran mengenai egaliter berkaitan dengan nilai fungsi suatu keperluan. Kemudian bercampur dengan jenjang-jenjang strata sosial, memperparah kesenjangan yang terjadi antara si kaya dan si miskin.
Dalam hal konsumsi makanan, tentu si kaya akan dengan mudah makan di tempat yang nyaman dengan makanan yang enak sesuai dengan pola hidup mereka. Sedangkan si miskin sebaliknya, tetapi tetap berusaha untuk menjadi seperti si kaya sembari meratapi kemiskinannya.
Aktivitas konsumsi menciptakan ketimpangan karena individu bak terobsesi. Sehingga khilaf dengan suatu barang atau sesuatu yang menyebabkan pemenuhan kebutuhan. Bukan lagi semata-mata pemenuhan kebutuhan melainkan sebagai kepuasan dan kesenangan bathiniah.
The Consumer Society : Kultur Konsumsi Masyarakat Indonesia
Modernisasi dan globalisasi mempengaruhi gaya hidup individu, kelaziman individu dalam menjalankan kegiatan konsumsinya sebagai konsumen sudah bergerak jauh dari sebagaimana mestinya. Kegiatan konsumsi yang dijalankan oleh individu seperti ini tentu tidak hanya melibatkan logika, tetapi lebih jauh melibatkan perasaan yang haus akan validasi. Sehingga membeli barang-barang bermerk dengan harga yang tentu menguras dompet demi mendapatkan status sosial tinggi.
Bagaimana warga lokal dewasa ini cenderung mengonsumsi makanan fastfood dengan orientasi western ketimbang makanan lokal atau bahkan memasak makanan sendiri seperti lebih memilih makan di gerai KFC, McD, Richeese, Burger King ketimbang pecel lele dan warung tegal demi mencapai kepuasan berupa kesetaraan (egaliter). Kebahagiaan diposisikan sebagai kenikmatan total dan bersifat batiniah dengan membuktikannya pada orang lain yaitu melalui sosial media. Kemampuan konsumsi setiap masyarakat berbeda, pada setiap kelompok dalam masyarakat akan
berorientasi kepada penggunaan dan penyaluran uang yang dimiliki.
Dalam kehidupan terdapat dua kubu yaitu si kaya dan si miskin. Si miskin berada di pihak yang serba kesulitan. Sedangkan di pihak yang berseberangan terdapat si kaya yang bersikap sebaliknya yaitu serba mudah memperoleh segala kemudahan yang ditawarkan oleh modernisasi kapitalis. Baudrillard beropini bahwa modernsiasi yang diusung oleh kapitalis justru semakin melanggengkan jumlah kemiskinan. Oleh sistem, pihak miskin selalu di setting berkompetisi dengan pihak kaya,
Itulah mengapa hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri dimanipulasi demi mencapai sebuah kesetaraan (egaliter). Inilah yang dimaksud Baudrillard dalam teori masyarakat konsumsi, Individu lebih suka membeli merk dari sebuah item yang ia konsumsi daripada fungsi dari item. Kegiatan konsumsi oleh mereka lebih kepada media show off untuk memperoleh status sosial di masyarakat.
Kesimpulan
Terjadinya perubahan sosial terhadap pola konsumsi yang lebih mengedepankan kepuasan bathin
demi mencapai kesetaraan berdampak kepada makin lebarnya kesenjangan yang terjadi di Indonesia. Demi meminimalisir terjadinya kesenjangan akibat pola konsumsi tersebut, individu
sebaiknya terlebih dahulu menetapkan skala prioritas dalam menjalankan aktivitas konsumsi, serta
memiliki komitmen terhadap diri sendiri agar menahan diri untuk membeli barang yang hanya sebagai pemenuhan kebutuhan show off semata. *