Guru SD Taktakan 1 Soroti Pentingnya Teknologi dan Etika Dalam Pendidikan

Reportase : Yuyi Rohmatunisa

Pemimpin Redaks i: Hairuzaman

KOTA SERANG | Harianexpose.com —

Guru SD Negeri Taktakan 1, Fuji Gustinawati, S.Pd menyampaikan pandangannya dalam wawancara bersama wartawan Yuyi Rohmatunisa. Kamis, (23/01/2025) terkait visi dan misi sekolah, serta tantangan dalam dunia pendidikan saat ini.

Fokus utama Fuji adalah peningkatan pengetahuan siswa melalui teknologi, serta penanaman etika dan akhlak pada generasi muda.

Fuji menjelaskan, SD Taktakan 1 saat ini memiliki 530 siswa dengan 12 ruang kelas. Untuk kelas 1, jumlah siswa yang meningkat menyebabkan pembentukan tiga kelas, masing-masing diisi hingga 52 siswa. Dengan total 24 guru, enam di antaranya masih berstatus honorer, sekolah menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan pendidikan berkualitas.

“Kami memiliki kegiatan ekstrakurikuler seperti hadroh, pramuka, dan UKS. Minat siswa paling banyak di pramuka dan hadroh. Tahun ini, siswa bahkan unggul dalam lomba pidato bahasa Jawa tingkat provinsi,” ujar Fuji.

Namun, Fuji menyoroti perubahan dalam pola pendidikan dibandingkan masa lalu. “Etika anak-anak sekarang jauh berbeda. Dulu, guru lebih leluasa menegur atau mendisiplinkan siswa. Sekarang, guru dibatasi oleh aturan sehingga pendekatan yang lebih personal menjadi kunci. Guru harus memahami karakter anak agar bisa masuk ke dunia mereka,” ungkapnya.

Fuji juga menekankan pentingnya metode pembelajaran yang kreatif. “Anak-anak sekarang lebih tertarik dengan pembelajaran berbasis teknologi. Misalnya, menggunakan video dan kuis interaktif dibandingkan metode ceramah yang membuat siswa mudah bosan,” tambahnya.

Di SD Taktakan 1, kepala sekolah aktif mengadakan In House Training (IHT) dan pelatihan untuk guru. Selain itu, guru penggerak sering berbagi ilmu dari seminar yang diikuti. “Ini membantu kami terus meningkatkan kualitas pengajaran,” jelas Fuji, yang telah menjadi guru honorer sejak 2016 dan diangkat kembali pada 2023.

Namun, Fuji juga mengungkapkan keprihatinannya terkait kurikulum. Menurutnya, kurangnya sosialisasi terhadap kurikulum merdeka membuat wali murid sering mengeluh. Fuji menyoroti kasus siswa yang belum mampu membaca, menulis, dan berhitung (calistung), yang tetap dinaikkan kelas sesuai aturan pemerintah.

“Guru SD sering disalahkan atas kondisi ini, padahal kemampuan anak berbeda-beda, dan ada banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif mereka,” katanya.

Fuji berharap pendidikan di SD Taktakan 1 terus berkembang menjadi percontohan bagi sekolah lain.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berakhlak baik dan siap menghadapi tantangan zaman,” tutupnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *