Kaidah Jurnalisme Dalam Merangkai Judul Berita

Oleh : HAIRUZAMAN.

(Penulis Buku, Praktisi Pers dan Wakil Pemimpin Redaksi Tabloid VISUAL Jakarta)

Dalam merangkai sebuah judul memang dinilai sangat mudah. Sebab, pada ghalibnya semua orang bisa untuk melakukannya. Akan tetapi, jika kita membuat judul untuk sebuah berita, maka ada aturan mengikat yang harus diikuti oleh seorang wartawan. Dalam jurnalisme, ada kriteria yang harus ditempuh untuk membuat judul sebuah berita. Sehingga judul berita yang kita rangkai dinilai layak dan sesuai dengan kaidah jurnalisme.

Tanpa di sadari seorang wartawan maupun redaktur sering kali mengabaikan kaidah jurnalisme dan melakukan suatu kesalahan dalam merangkai judul berita. Padahal kesalahan dalam merakit judul berita itu sejatinya tak perlu terjadi apabila wartawan maupun redaktur mengetahui syarat atau kriteria yang harus ditempuh dan sesuai dengan kaidah jurnalisme.

Sementara itu, beberapa syarat membuat judul berita dalam ilmu jurnalistik antara lain, judul berita itu merupakan intisari dari berita yang ditulis. Sehingga kita tak perlu bertele-tele dan dengan kalimat yang panjang dalam merangkai judul berita. Jangan heran jika wartawan sebuah majalah membuat judul beritanya singkat, padat dan cukup dengan hanya dua atau tiga kata saja. Sebab, jika pembaca ingin mengetahui secara detail, maka akan membaca isi dalam tubuh berita. Judul yang simpel dan tidak bertele-tele serta menarik, tentu saja akan membuat penasaran para pembacanya. Tak pelak, sehingga para pembaca pun dipaksa untuk menyimak seluruh isi berita tersebut lantaran merasa penasaran dan ingin tahu informasi yang terkandung dalam berita.

Syarat lain yang tak kalah penting dalam membuat judul berita harus menggunakan bahasa (Indonesia) jurnalistik. Dimana lazimnya kita harus menggunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan memakai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) karangan JS. Badudu. Karena itu, seorang wartawan maupun redaktur harus mencintai bahasa dan memperbanyak perbendaharaan kata. Hal itu bertujuan agar para pembaca tidak merasa bosan ketika membaca berita yang ditulis oleh seorang wartawan.

Acap kali kesalahan sering pula dilakukan oleh wartawan secara berulang-ulang dalam merangkai judul berita lantaran tidak memahami kata kerja, kata sifat, kata benda atau kata keterangan. Sehingga kesalahan kecil itu dinilai sangat mengganggu publik pembaca ketika menyimak sebuah judul berita.

Ketika akan menyusun sistematika kalimat yang benar, ada baiknya perlu memperhatikan kategori kata yang hendak digunakan. Apakah termasuk pada kategori kata kerja, kata sifat, kata benda, atau kata keterangan. Kata kerja atau biasa disebut juga dengan istilah verba yakni kategori kata yang menggambarkan proses kegiatan. Namun, banyak orang belum dapat membedakan antara mana kata kerja dan mana pula kata benda.

Ketika merangkai judul berita sering pula ada kesalahan satu huruf dalam satu kata yang dinilai sangat mengganggu. Celakanya, hal itu bisa merubah makna kata yang ditulis. Contoh, “Penilik SD” ditulis “Pemilik SD” atau “Sarat KKN” ditulis “Syarat KKN”. Sehingga kata tersebut berubah makna dan arti. Kesalahan lain seperti, “Sekretaris” ditulis “Sekertaris” atau “Provinsi” ditulis “Propinsi” dan sebagainya. Padahal jika kita merasa ragu-ragu saat menulis sebuah kata, maka sebaiknya membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Kamus bahasa Inggris maupun bahasa Ilmiah.

Selain dalam ilmu jiurnalistik itu menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan EYD, seorang wartawan maupun redaktur harus menguasai bahasa Inggris dan bahasa ilmiah. Karena bahasa Inggris dan bahasa ilmiah sering kita temui dalam sebuah berita. Dengan menguasai bahasa tersebut, maka seorang wartawan atau redaktur akan terhindar dari kesalahan dalam membuat sistematika penulisan sebuah berita. Kesalahan yang sering dilakukan terutama dalam menggunakan bahasa ilmiah antara lain, “Paradigma” ditulis “Pradigma” atau “Konfirmasi” ditulis “Kompirmasi” – “Moment” ditulis “Momen” – “Statment” ditulis “Statement” dan beberapa kesalahan lainnya.

Ada pula yang membuat judul berita akan tetapi tidak ada konteksnya dengan isi berita yang ditulisnya. Judulnya ke timur, sementara isi beritanya lari ke barat. Hindari pula membuat judul berita dengan kata-kata yang terlalu bombastis dan tidak sesuai dengan fakta yang terjadi. Sebab, hal itu akan berdampak pada hilangnya kepercayaan publik pembaca. Boleh jadi pula publik pembaca tidak.mau membaca isi berita karena kesalahan dalam membuat judul berita yang dilakukan oleh seorang wartawan maupun redaktur suatu penerbitan.

Hal lain yang patut pula untuk diperhatikan dalam merakit sebuah judul berita agar dalam sistematika penulisan kalimat tidak ada kata yang di ulang-ulang. Seperti, kata “dan” – “yang” dan kata-kata lainnya. Dengan memperhatikan ulasan di atas, maka diharapkan seorang wartawan maupun redaktur akan terhindar dari kesalahan yang bisa berakibat fatal lantaran akan hilangnya kepercayaan publik pembaca terhadap bobot berita yang ditulis. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *