Oleh : HAIRUZAMAN.
(Ketua DPD PJID Banten dan Wakil Pemimpin Redaksi Tabloid Umum VISUAL Jakarta).
Memasuki tahun politik pada kontestasi Pemilu 2024 mendatang, saat ini para politisi sudah mulai kasak-kusuk untuk meraih simpatik dan dukungan masyarakat. Sudah menjadi sebuah tradisi ketika memasuki tahun politik, para politisi dari berbagai partai politik yang telah dinyatakan lolos dari lubang jarum verifikasi faktual Komisi Pemilihan Umum (KPU), mulai berlomba-lomba untuk mencari simpatik masyarakat.
Bakal Calon (Balon) legislatif masing-masing mempunyai strategi tersendiri guna mendapatkan dukungan dari masyarakat. Sehingga diharapkan nantinya dapat meraup suara yang banyak dan bisa melenggang ke kursi parlemen. Celakanya, mayoritas para politisi tersebut, bukannya memberikan pendidikan politik terhadap masyarakat, namun justru mereka lebih cenderung mengobral janji-janji kampanye kepada masyarakat. Tujuannya tak lain agar masyarakat menjadi simpatik dan memberikan dukungan suaranya.
Padahal sejatinya para politisi itu harus memberikan pencerahan dan pemahaman kepada masyarakat melalui pendidikan politik. Selain itu, para politisi juga dibarapkan menyampaikan visi misi dan program kerja apabila nanti mereka terpilih sebagai anggota legislatif. Akan tetapi, justru yang terjadi mereka kerapkali hanya berlomba-lomba mengobral janji yang seringkali tak ditepati. Sehingga masyarakat pun akhirnya banyak yang merasa kecewa dan merasa dibohongi.
Diprediksi, pada tahun politik sekarang ini fenomena money politic masih terus terjadi. Pasalnya, para politisi ternyata masih belum mampu untuk merubah kultur tersebut di tengah-tengah masyarakat. Sehingga jangan berharap bagi politisi yang mempunyai kemampuan, wawasan pengetahuan, kredibilitas dan reputasi yang baik bakal mendapatkan suara dan dukungan dari masyarakat Jika tidak didukung oleh cosh politik yang besar. Sebab, cosh politik itulah yang akan berpengaruh dan menentukan terhadap dukungan suara dari masyarakat pemilih.
Menebar janji-janji palsu politik yang tak pernah terbukti dan ditepati, sejatinya akan mencederai dan melukai hati masyarakat. Selain itu, tentu saja akan berdampak buruk bagi politisi tersebut. Karena masyarakat akan kehilangan kepercayaan dan rasa empati. Sehingga diharapkan para politisi harus merubah pola dan strategi kampanye yang dinilai sudah tidak populis tersebut. Apalagi melakukan “black compaign” (kampanye hitam) terhadap rival-rival politiknya.
Bagi masyarakat yang termasuk kategori pemilih cerdas, tentu saja money politic tidak akan mempengaruhi terhadap sikap dan pendiriannya. Bahkan, bagi tipe pemilih yang cerdas, mereka terlebih dahulu akan melihat track record-nya. Setelah itu, baru akan menentukan pilihan politiknya terhadap politisi tertentu.
Diharapkan partisipasi politik yang tinggi masyarakat harus dibarengi dengan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Sehingga masyarakat dapat menjatuhkan pilihan poltiknya pada kandidat legislatif yang tepat. Berdasarkan track record yang bagus. Masyarakat pemilih bukan membeli kucing dalam karung. *”