Media Massa Lapar Sensasi Plesetkan Kata “Nekat”

Olleh : HAIRUZAMAN.

(Penulis Buku dan Praktisi Pers).

Kata nekat. mendeskripsikan pribadi Feni Rose. Siapa yang bisa menyangka jika karier yang dibangunnya sampai saat ini, awalnya hanya bermodalkan nekat. Sebuah fakta yang unik dan menarik, rahasia “Senin harga naik”, kisah pilu nan menyesakkan dada, dan butir- butir kisah misteri yang memberikan banyak pelajaran berharga dalam setiap rongga kehidupannya dipaparkan dalam buku ini secara ganblang.

Melalui apa yang dia tulis, Feni ingin menyuarakan bahwa setiap orang berkesempatan untuk “tampil” dan percaya diri, dan ingin membuktikan bahwa orang yang terjatuh bisa bangkit lebih nendang dan spektakuler dari sebelumnya, hanya dengan modal nekat.

Feni Rose merupakan seorang pembawa acara ternama asal Indonesia. Kariernya melejit bermula ketika membintangi iklan sebuah produk deterjen. Lulusan Antropologi Universitas Indonesia (UI) ini kini tengah menggeluti dunia bisnis rumah produksi Lights On Production bersama sang suami, Enkito Herman Nugroho. Dia mendapatkan penghargaan sebagai Presenter Acara Infotainment Terfavorit pada Panasonic Gobel Award (PGA) sebanyak empat kali. Di balik layar televisi, Feni Rose disibukkan dengan menjadi salah satu instruktur tari tradisional.

Mungkin saat ini Anda bekerja sebagai pegawai, profesional, guru, pengusaha, pelajar, calon artis, atau apa saja. Apa pun bidang yang Anda geluti sekarang, kalau Anda merasa segala sesuatunya serba sedang-sedang saja, serba itu-itu saja, maka Anda perlu tahu rahasia ini: Nekat akan mengubah hidup Anda secara drastis!

Sudah banyak orang yang mengungkapkan rahasia kesuksesan berbekal macam-macam, tapi sedikit saja yang bermodalkan nekat. Padahal, kita bisa mengembangkan nekat sebagai modal dalam menyongsong keberhasilan—supaya hidup Anda lebih luas, penuh, dan bermutu.

Nekat itu baik. Sangat bagus, malah.
Namun, gara-gara pemberitaan oleh media massa yang lapar sensasi, istilah ‘nekat’ akhir-akhir ini terkesan ‘miring’, bahkan nyaris dianggap negatif. Jadi, sesungguhnya nekat yang benar itu apa sih?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), memaknai ‘nekat’ sebagai berkeras hati; dengan kuat kemauan; terlalu berani dan tidak memperhitungkan akibatnya; terlalu berani dan tidak berpikir panjang; tetap tidak mau mengalah; tetap tidak mau menyerah; bersikeras; ngotot. Dari segi bahasa, pendefinisian begini sih oke.
Tapi agar lebih mengena, untuk meluruskan konotasi itu, kita susun saja sendiri pengertian nekat sebagai pedoman baru dengan mengolah definisi yang sudah ada. Nekat kita definisikan sebagai bertindak berani dengan kemauan kuat untuk mencapai tujuan yang jelas dan berharga. Bagus, kan? Mulai sekarang dan seterusnya, definisi inilah yang kita pakai.

SKalau manusia ingin sukses dalam hidup, salah satu syaratnya adalah wajib nekat. Artinyax kalau seseorang tidak nekat, dia memang akan tetap bertahan hidup, bisa survive, tapi tak akan bisa sukses. Kehidupannya akan sedang-sedang saja. Dalam bahasa Inggris, keadaan semacam ini diistilahkan mediocrity, tidak jelek, tapi juga tidak bagus-bagus amat. Anda tentu kenal orang-orang semacam itu.

Lebih ajaib lagi, ribuan orang mau menjalani kehidupan tersebut, dari tahun ke tahun! Bukan karena tak ada peluang lain. Bukan pula betah, namun karena orangnya sendiri tidak punya kenekatan untuk berubah! Mereka memilih hidup yang itu-itu saja. Memang, ada yang sungguh-sungguh tidak tertarik pada perubahan…tapi lebih banyak lagi yang tidak berani mengupayakan perubahan.

Segala hal yang hebat, yang mulia, yang baik, yang indah, lahir dari satu kenekatan. Sukses dan keberhasilan bermula dari nekat. Ini digali dari praktik lapangan, bukan teori kosong. Silakan cari dan tunjukkan pada saya: adakah orang yang sukses besar tanpa pernah berbuat kenekatan sama sekali dalam perjuangannya? Orang-orang yang paling sukses dan berbahagia selalu pernah melakukan perbuatan nekat yang mengubah jalan hidupnya.

Kenekatan itu membukakan lembar baru dalam hidup mereka, yang seumur-umur tidak akan pernah terkuak jika mereka tidak nekat. Karena tujuannya jelas dan berharga, bahkan kenekatan mereka seringkali turut membuahkan kebahagiaan pula bagi orang lain. Orang-orang sukses ini melakukan berbagai kenekatan yang tidak berani dilakukan orang-orang gagal.

Kalau begitu apa yang membedakan antara sekadar nekat dengan bersungguh- sungguh nekat? Selain soal kesungguhan hati, yang membedakan keduanya adalah tujuan yang ingin dicapai, tentunya.

Nekat akan memberi kita power, daya, dan kesanggupan untuk melakukan terobosan upaya baru, melakukan perombakan, yang sebelumnya tertunda-tunda, diragukan, atau risiko-risikonya membuat Anda bimbang dan khawatir. Tujuannya adalah untuk menghasilkan perbedaan—bukan perbedaan biasa, melainkan perbedaan yang luar biasa. Yang drastis. Supaya hasil Anda tidak itu-itu saja.

Saya menghargai kesabaran dan ketekunan, dan amat membenci perilaku instan. Tapi, manusia yang sabar dan tekun dari waktu ke waktu tanpa kenekatan, manfaatnya ya cuma “menghabiskan umur” saja. Tapi kalau Anda nekat, selalu ada terobosan. Selalu.

Lalu, apakah Anda merasa iri karena cita-cita atau impian Anda belum kesampaian? Jika begitu, baguslah! Sebab, rasa iri itu sebetulnya positif.

Anda tidak sendirian. Ada ribuan orang lain yang merasa geram bercampur kecewa karena sudah capek-capek berusaha tapi tujuan yang diimpikannya belum juga terwujud. Mereka semua menemui rintangan. Buntu. Seperti halnya Anda, tentu saja orang-orang ini pun ingin membuat terobosan agar hidup mereka berubah menjadi lebih baik.

Ketika terbetik rasa iri, jenuh, kesal karena mimpi Anda tidak terwujud, itu bisa berarti sudah saatnya Anda “mencebur ke laut”. Nekat. Menyelam. Tersedak, batuk-batuk. Mengapung lagi. Hanyut. Diaduk-aduk badai, dibakar terik matahari, disembunyikan kabut tebal dan dingin.

Berhentilah mengeluh. Ungkapkan semua rasa iri Anda. Gunakan hak Anda menentukan nasib sebagai manusia. Renungkanlah maknanya dan pilih sendiri kehidupan sehebat apa yang mau Anda jalani.

Dan ingat, sukses bukan ditentukan waktu Anda, melainkan nekat Anda. Seperti pesan seorang purnawirawan, “Lebih baik satu hari jadi macan daripada seratus tahun jadi kelinci.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *