Soreang Tempat Pembaringan Urang

Oleh : HAIRUZAMAN

(Penulis Buku dan Praktisi Pers)

Sejak lama saya memang tertarik dengan buku berjudul “Mengenang Bumi Kelahiran” yang notabene merupakan sebuah kumpulan tulisan atau bunga rampai para pemenang lomba karya tulis dari penulis seluruh Indonesia.

Saya menyimak lembar demi lembar dari setiap judul para pemenang lomba karya tulis tersebut. Sebuah buku kecil dan mungil itu ternyata merupakan buah karya besar para penulis yang handal. Wajar saja sehingga mereka terpilih sebagai juara.

Buku dengan mengusung tema “Mengenang Bumi Kelahiran” memang bertujuan agar kita tidak melupakan tanah kelahiran. Sebab, bagaimana pun bumi kelahiran banyak mewarnai kehidupan kita. Selain itu pula, bumi kelahiran juga merupakan catatan sejarah yang tak pernah lekang dari ingatan kita. Hal ini mengingatkan saya pada sebuah adagium yang berbunyi “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”.

Mengenang Bumi Kelahiran ialah sebuah deskripsi tempat kita dibuai dan dibesarkan oleh ayah dan bunda. Termasuk pertama kali kita mengenal lingkungan sekitar tempat tinggal. Bermain dan bersenda gurau bersama teman-teman satu kampung. Mulai bermain sepeda, mandi di sungai, bermain sepak bola, bermain kelereng, bermain congklak dan permainan tradisional lainnya.

Selepas sekolah misalnya, tentu saja tak pernah terlupakan saat bermain dengan teman-teman satu kampung. Banyak sekali permainan tradisional yang nyaris setiap hari tak pernah kita tinggalkan.

Namun, permainan tradisional itu saat ini hilang bak ditelan zaman. Pasalnya, anak-anak sekarang lebih sibuk dengan permanan gudgetnya. Teknologi modern seolah telah membius anak-anak. Sehingga saat ini anak-anak menjadi malas untuk belajar dan mengaji. Tentu saja peran orang tua sangat dibutuhkan agar anak-anak tidak menjadi kebablasan.

Mengenang Bumi Kelahiran, ada satu judul yang tak pernah saya lupa karena ditulis dengan bahasa daerah Sunda dengan judul “Soreang Tempat Pembaringan Urang”. Penulisnya begitu pandai bermain dengan kata-kata. Tak ayal, sehingga saya harus membacanya secara berulang-ulang. Saya menilai tulisan berjudul “Soreang Tempat Pembaringan Urang” itu ada sentuhan “Human Interest” dari penulisnya. Sehingga membuat para pembacanya menjadi tertarik untuk menyimaknya. **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *