Oleh : Hairuzaman.

(Praktisi Pers dan Penulis Buku)

Hampir 20 tahun lebih saya memang tak pernah menginjakkan kaki di daerah Pandeglang Selatan, tepatnya di Kecamatan Cikeusik. Sejauh mata memandang, memang tampak sudah banyak yang berubah. Mulai dari kondisi jalan yang bagus, permukiman penduduk yang sudah mulai padat dan tentu saja perekononian penduduk yang mulai menggeliat. Sehingga wajar saja jika wilayah Pandeglang Selatan berniat ingin memisahkan diri dari Kabupaten Pandeglang.

Sepanjang jalan menuju Desa Rancaseneng, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, saya pun dimanjakan dengan pemandangan indah berupa pepohonan hijau dan rimbun serta kelapa sawit yang berjejer persis di tepi jalan. Akan tetapi, pasca Indonesia di dera pandemi Covid-19 yang berkepanjangan, petani kelapa sawit di wilayah Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, meradang. Pasalnya, harga kelapa sawit saat ini terjun bebas. Bahkan harganya mencekik leher petani sawit. Bayangkan, harga per kilogram sawit hingga menembus angka Rp.100.

Kondisi itu berbanding terbalik dengan harga minyak goreng di pasaran yang melambung tinggi. Selain harganya yang terbilang begitu mahal, konsumen juga sempat kesulitan menemukannya di pasaran. Tak pelak, akibatnya kondisi yang tak wajar itu dikeluhkan oleh masyarakat. Pandemi Covid-19 berdampak buruk terhadap kehidupan ekonomi petani sawit di wilayah Kecamatan Cikeusik, Pandeglang.

Jarak tempuh menuju Kecamatan Cikeusik dari Kota Serang, memang memakan waktu hingga 3 jam lebih. Jarak tempuh tersebut terbilang cepat jika dibandingkan dengan 20 tahun silam. Dimana jalan menuju Cikeusik kondisinya mengalami rusak berat. Sehingga dapat memperlambat perjalanan. Selain itu, tempo dulu suasananya pun masih sepi dan jauh dari hiruk-pikuk kendaraan roda dua maupun roda empat seperti sekarang.

Tak jauh dari Pasar Tradisional, tepatnya di Desa Rancaseneng, Kecamatam Cikeusik, Pandeglang, menjelang senja tampak beberapa pekerja tengah sibuk membangun ruang terbuka hijau di atas lahan seluas 1 hektare. Lahan seluas itu rencananya bakal di sulap menjadi taman bermain. Mulai dari gedung serba guna, jogging track, lapangan futsal, tempat teraphy, tempat bermain anak-anak, taman baca, gajebo, tribun, MCK dan fasilitas umum lainnya. Di atas lahan 1 hektare tersebut Pemerintah Provinsi Banten, melalui Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Banten, menggelontorkan dana sebesar Rp.6,2 miliar.

Proyek peningkatan kualitas kawasan permukiman kumuh di Desa Rancaseneng, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, itu digarap oleh kontraktor CV. Mandiri Berlian. Sementara itu, Wakil Direktur CV. Mandiri Berlian, Hj. Liesdiana berharap proyek Taman Cangkore itu akan rampung sesuai dengan addendum selama 30 hari.

Senja di Taman Cangkore tampak beberapa anak-anak dengan wajah ceria tengah asyik bermain. Suasana di Desa Rancaseneng, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, saat ini sudah banyak berubah. Anak-anak kini bisa bermain sesuka hati di Taman Cangkore dengan suasananya yang begitu indah tanpa harus merogoh isi kantong mereka. **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *