Sektor Industri Pengolahan, Kontributor Terbesar Dalam Penerimaan Pajak Banten

0

Reportase : Dendy Rifaldy Maulana – Editor In Chief : Hairuzaman

KOTA SERANGHarianexpose.com |

Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Banten, menggelar Konferensi Pers APBN Regional Banten dengan nara sumber Kepala Kanwil DJKN Banten, Nuning S.R. Wulandari, pada Senin (27/2/2023) secara daring bertajuk “Kondisi Makro Ekonomi dan Fiskal Regional Provinsi Banten Sampai Dengan 31 Januari 2023”.

Dalam kesempatan itu, Kepala Kanwil DJKN Banten, Nuning S.R. Wulandari, mengatakan, pertumbuhan ekonomi triwulan IV Provinsi Banten tumbuh sebesar 4,03 %. Sedangkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), inflasi, tingkat kemiskinan dan Indeks Gini. Untuk IPM 2022 sebesar 73,32. IPM Provinsi Banten tahun 2022 tunbuh meningkat 0,6 poin dibandingkan tahun 2021 silam. Sedangkan TPT meningkat menjadi 8,09 %. Tingkat kemiskinan dan indeks gini di Banten periode September 2022 tercatat sebesar 6,24%.

Nuning menjelaskan, penerimaan pajak periode Januari 2023 terealisasi sebesar Rp 5,99 Triliun, tercapai 8,88% dari target Rp 67,453 Triliun dan tumbuh sebesar 15,70% (y-o-y). Kinerja penerimaan pajak masih tumbuh positif disebabkan perekonomian yang membaik sejalan dengan pemulihan ekonomi nasional.

Ia menuturkan, mayoritas jenis pajak dominan mencapai pertumbuhan positif apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2022. Kecuali untuk pajak-pajak import yaitu, PPh 22 import dan PPM import. Hal ini disebabkan pada awal 2023 tengah terjadi penurunan aktifitas import. Penerimaan sektoral kumulatif sampai dengan 31 Januari 2023 mayoritas sektor dominan tumbuh positif. Sektor dengan pertumbuhan paling tinggi adalah sektor pertambangan dan penggalian dengan pertumbuhan 81,64%. Disusul sektor transportasi dan pergudangan dengan pertumbuhan 38,70%. Sektor industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar dalam penerinaan pajak Banten dengan kontribusi sebesar 36,74% untuk penerimaan Januari 2023.

Nuning menambahkan, sementara kinerja penerimaan cukai sampai dengan 31 Januari 2023 tumbuh 52,58%. Kontribusi terbesar berasal dari jenis BKC MMEA, yakni :
1. Penerimaan cukai MMEA Januari 2023 tumbuh 44,37% (yoy : Januari 2022).
2. Hal ini disebabkan oleh peningkatan produksi MMEA bulan Januari 2023 dan bulan Desember 2022 yang baru dibayarkan bulan Januari  2023.
3. Pertumbuhan tersebut juga ditunjang oleh eextra effort bidang pengawasan.

Sementara itu, lanjut Nuning, untuk HT, yakni sebagai berikut :
1. Kinerja penerimaan cukai HT 2023 tumbuh 451,7% (yoy. Januari 2022).
2. Penerimaan HT bulan Januari 2023 seluruhnya merupakan penerimaan atas REL (Rokok Elektronk).
3. Pertumbuhan penerimaan cukai bulan Januari 2023 disebabkan oleh pertumbuban produksi REL (Baik jenis terbuka maupun tertutup), serta adanya kebijakan kenaikan tarif cukai sebesar 15% tahun 2023.

Dikatakan, realisasi TKD belanja sampai dengan Januari 2023. Realisasi belanja TKD sebesar Rp.962,65 miliar mengalami kontraksi 21,51% (yoy). Total pagu TKD tahun 2023 naik sebesar Rp.502,45 miliar atau 3,14% (yoy). Kenaikan pagu terjadi pada DAU sebesar Rp.408,69 miliar. DBH sebesar Rp.127,94 miliar. Desa sebesar Rp.88,51 miliar. Penurunan pagu terjadi pada DID sebesar Rp.74,20 miliar. DAK fisik sebesar Rp.40,73 miliar, DAK non fisik sebesar 7,75 miliar. Sampai dengan 31 Januari DAU dan DBH yang telah ada realisasi. Sehingga per 31 Januari 2023 realisasi TKD mengalami kontraksi sebesar Rp.263,80 miliar atau 21,51 % (yoy). **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *