Menulis Berita “Cover Both Side”

0

Oleh : HAiRUZAMAN

(Penulis Buku dan Praktisi Pers)

Tak sedikit wartawan menulis berita kasus gegara tidak ditulis secara berimbang (Cover both side), akhirnya berujung adanya somasi ke Dewan Pers dan berakhir di meja hijau. Padahal, jika wartawan memahami tentang Undang-Undang No.40 Tahun 1999 Tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistk (KEJ), maka, sejatinya hal itu sebisa mungkin dapat dihindari.

Karena itu dalam menulis berita kasus, wartawan tak boleh menyepelekan cover both side. Pasalnya, KEJ melarang keras wartawan menulis berita yang menyudutkan seseorang. Padahal yang ditulisnya itu masih praduga yang belum tentu kebenarannya. Tak pelak, sehingga privasi seseorang menjadi tercemar dan merugikan orang lain akibat pemberitaan yang ditulis secara serampangan dan memgabaikan cover both side.

Apabila wartawan ingin menulis berita kasus, misalnya dugaan korupsi, maka pihak yang bersangkutan harus diwawancarai terlebih dahulu. Apakah benar seseorang itu terindikasi korupsi atau lantaran pihak yang menghembuskan hal itu ada konflik pribadi. Sehingga menyerang seseorang yang belum tentu bersalah.

Di wilayah Kabupaten Tangerang, Banten, misalnya, banyak wartawan yang terkena somasi gegara tidak menulis berita dengan cover both side. Celakanya, setelah kasusnya ditangani oleh Dewan Pers dan meminta pihak wartawan atau penerbit media massa untuk menayangkan Hak Jawab, namun hal itu.tidak digubris. Sehingga semakin memperuncing permasalahan dengan pihak yang merasa dirugikan tersebut.

Hak Jawab sesuai KEJ merupakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada pihak yang merasa dirugikan untuk meluruskan pemberitaan yang dinilai sepihak dan merugikan seseorang. Karena saat berita itu disiarkan, pihak yang bersangkutan tidak dikonfirmasi atau diwawancarai oleh wartawan. Sememtara itu, image publik sudah terbentuk akibat pemberitaan.

Padahal apabila wartawan saat akan mewawancarai pihak yang diduga bermasalah dan tidak bisa ditemui karena tidak ada ditempat, maka wartawan bisa menyiarkan berita tersebut dengan catatan harus mencantumkan dalam beritanya yakni : “Ketika ditemui wartawan pada Minggu (20/8/2023), tidak ada ditempat”. Maka wartawan tersebut dapat terhindar dari Delik Pers. Karena wartawan tadi sudah mencoba untuk mengkonfirmasi, namun yang bersangkutan sedang tidak ada ditempat.

Membuat berita secara cover both side, ternyata tidak boleh disepelekan. Apalagi wartawan mengabaikannya dalam menulis suatu berita kasus. Karena wartawan tak boleh melanggar KEJ sebagai pedoman dan tatanan etik wartawan dalam menjalankan tugas jurnalisme sehari-hari. **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *