Menghindari Kata-Kata Mubadzir Dalam Merakit Berita

Oleh : HAIRUZAMAN

(Penulis Buku dan Praktisi /Pers)

Dalam sebuah kalimat berita seringkali kita membaca kata-kata yang mubadzir atau dengan kata lain kata-kata yang sering diulang-ulang. Padahal arti dan maknanya sama saja. Apalagi kata-kata mubadzir tersebut ditulis dalam sebuah judul berita. Tentu saja hal ini dinilai sangat mengganggu lantaran tidak sssuai dengan kaidah dalam ilmu jurnalisme.

Adapun syarat dalam membuat sebuah judul berita misalnya, judul berita merupakan inti sari berita, judul berita itu harus singkat dan padat serta tidak boleh bertele-tele. Menghindari kata-kata yang diulang-ulang dan mempunyai makna yang sama. Selain itu, judul berita juga maksimal harus 11 kata. Sehingga tidak panjang seperti kalimat dalam isi berita.

Kasus penulisan judul berita yang salah dan tidak sesuai dengan kaidah jurnalisme itu saat ini acap kali kita temui. Terutama yang dilakukan oleh wartawan pemula. Belum lagi kata-kata mubadzir yang ada dalam kalimat kepala berita (lead/intro) dan tubuh berita. Padahal kesalahan fatal seperti itu bisa dihindari apabila mempunyai pengetahuan Bahasa Indonesia, Bahasa Ilmiah dan yang lainnya. Pasalnya, seorang wartawan itu harus mencintai bahasa agar tidak salah dalam menulis sebuah berita

Di tahun politik sekarang ini misalnya, banyak baligho yang bertebaran dimana-mana. Namun, jika kita cermati banyak yang salah dalam menulis. Sebab, terdapat kata-kata.yang mubadzir. Celakanya, para wartawan juga ikut mengulang kesalahan itu dalam merakit suatu berita. Misalnya kata ; “Kandidat Calon” atau “Caleg DPRD” dan sebagainya. Padahal kata “Kandidat” itu maknanya sama dengan “Calon”. Sedangkan kata “Caleg (Calon Legislatif). Dimana Legialatif itu artinya sama dengan DPRD. Jadi, kita tak perlu menulisnya dengan kata yang berulang-ulang dan bersifat mubadzir karena mengandung makna yang sama.

Ada pula yang menulis berita dengan kata “Warga Masyarakat” yang notabene bermakna sama. Masih banyak kata-kata mubadzir yang sering kita temui dalam penulisan sebuah berita. Tentu saja jika dalam penulisan judul berita saja salah, maka bisa dipastikan kalimat dalam kepala berita (lead/intro) maupun tubuh berita juga akan salah. Bagi pembaca yang cerdas, tentu saja akan malas untuk membaca berita tersebut secara komprehensif.

Perlu juga di ingat, dalam merakit sebuah berita terlebih dahulu kita harus mempunyai wawasan dan ilmu pengetahuan (Knowledge) bahasa yang baik. Termasuk pula ilmu pengetahuan di bidang yang lainnya guna menghindari adanya kesalahan dalam menulis berita. Dalam menulis berita kita juga harus mengikuti rumus 5W + 1 H, sebagai standar dalam kaidah jurnalisme. **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *