Membumikan (Kembali) Budaya Gotong-Royong

0

Oleh : HULMAN, S.Pdi.

(Kepala Desa Bojong Pandan, Kecamatan Tunjung Teja, Kabupaten Serang, Banten)

Budaya gotong-royong yang menjadi karakter masyarakat Indonesia sekarang ini mulai tergerus oleh hingar-hingarnya kemajuan peradaban terutama di bidang teknologi. Tak ayal, akibatnya budaya gotong-royong saat ini mulai ditinggalkan oleh masyarakat modern.

Padahal budaya gotong-royong itu merupakan warisan nenek moyang bamgsa Indonesia yang telah mengakar kuat di tengah-tengah masyarakat. Pasalnya, budaya gptong-royong mengandumg nilai-nilai kebersamaan, persatuan dan sekaligus sebagai ajang silaturahmi terutama bagi umat Islam.

Nilai-nilai yang telah lama menjadi kultur di tengah-tengah masyarakat tersebut harus tetap dipertahankan oleh generasi penerus bangsa Indonesia. Sebab, banyak dampak positif yang bisa dipetik dari budaya gotong-royong di masyarakat.

Berdasarkan sejarah, budaya gotong royong di Indonesia sudah ada sejak tahun 2000 SM, tepatnya sekitar tahun 1800-an. Ketika itu bangsa Eropa datang ke Indonesia, masyarakat Indonesia melakukan kegoatan gotong-royong untuk menyelesaikan pekerjaan guna keperluan bersama, seperti, gotong-royong memperbaiki saluran irigasi, dan sebagainya.

Sememtara itu, pada dasarnya gotong-royong merupakan istilah untuk bekerja bersama guna mencapai suatu hasil yang didambakan. Istilah ini berasal dari kata bahasa Jawa “gotong” yang berarti “mengangkat” dan “royong” yang berarti “bersama”. Dengan demikian gotong-royong adalah kegiatan mengangkat atau mengerjakan sesuatu secara bersama-sama.

Kendati gotong-royong belakangan ini mulai tergerus, namun budaya tersebut bagi masyatakat yang tinggal di pedesaan masoh tetap dipertahankan. Berbeda dengan masyarakat yang bermukim di perkotaan. Dimana secara sosiologis, masyarakat perkotaan lebih bersifat masa bodoh dan apatis.

Pembangunan terutama di pedesaan membutuhkan peran serta aktif dari masyarakat. Karena tanpa adanya keterlibatan dan peran serta masyarakat, tujuan pembangunan tidak akan tercapai.

Semangat gotong-royong di tengah-tengah masyarakat harus kembali digaungkan. Sehingga budaya gotong-royong tersebut tidak akan tergerus oleh hingar-bingarnya kemajuan peradaban zaman dewasa ini.

Sampai saat ini budaya gotong-royong terutama di Desa Bojong Pandan, Kecamatan Tunjung Teja, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, masih terus dilestarikan. Dengan adanya keterlibatan dan peran serta aktif masyarakat dalam proses pembangunan berdampak positif terhadap hasil yang dicapai. Mudah-mudahan budaya gotong-royong tersebut akan terus dipertahankan demi suksesnya pembangunan di pedesaan. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *