Sejarah Hidup KH. Abdul Gani, Miliarder NU dari Kresek

Oeh : KH. Hamdan Suhaemi, MA.

(Aktifis NU dan Pengurus MUI Banten)

Riwayat Lahir

Abdul Gani lahir di Kampung Cempaka Kresek pada tahun 1914 dari ayah bernama Muhammad dan ibu bernama Armunah, ibunya ini putera dari KH. Usman yang nasabnya hingga Syaikh Hasan Basri Cakung, cucu dari Syaikh Ciliwulung.

Kresek awal abad 20 adalah satu daerah pedesaan yang dikategorikan sebagai ommelanden, yakni daerah pedalaman di luar benteng utama Batavia di Tangerang. Abdul Gani lahir di Kresek saat masih dalam era penjajahan Belanda.

Masa Kecil

Ayahnya Muhammad hidup di peralihan abad 19 ke abad 20 mewariskan jiwa wirausahanya ke anaknya Abdul Gani. Sejak kecil Abdul Gani dilatih dagang mulai jualan tali yang bahan dasarnya daun pisang setelah dianyam rapih dan kuat lalu dijual ke pedagang yang punya lapak, pagi antarkan gulungan gulungan tali ke pasar Kresek lalu sorenya mengambil uangnya.

Beranjak remaja, Abdul Gani mulai menekuni dagang kain terutama sarung, jualan kopi dan pisang goreng di sela sela kegiatan lainya yaitu ngaji ke kiai-kiai kampung yang terdekat. Karena itu Abdul Gani hanya bisa nulis Arab Pegon tidak bisa menulis latin.

Abdul Gani remaja tidak mengenyam pendidikan formal karena kebijakan politik etis dari Ratu Wilhelmina baru turun dengan aturan Scholen Ordonnantie dan itu berlaku pada tahun 1932. Meskipun di beberapa daerah bermunculan sekolah-sekolah yang diperuntukan bagi warga Eropa khususnya Belanda, anak-anak bangsawan, putera puteri Menak seperti OSVIA di Serang, STOVIA di Jakarta, THS di Bandung.

Jejak Perlawanan

Saat usia 20 tahun, Abdul Gani yang sudah tumbuh sebagai pedagang ikut aktif di organisasi SDI ( Serikat Dagang Islam ) yaitu organisasi perintis pergerakan nasional di Indonesia yang didirikan pada tanggal 16 Oktober 1905 di Laweyan, Surakarta oleh Haji Samanhudi.

Keaktifan di SDI tidak serta merta ikut masuk dalam struktur SI setelah SDI berubah menjdi SI hingga SI pecah ada SI merah dan SI putih, namun Abdul Gani bertahan di SDI lama. Karena leburnya SDI jadi SI itu berlaku di Jawa terutama ketika munculnya H.O.S Cokroaminoto sebagai figur sentral di tubuh SI.

Bebarapa tahun kemudian Bala Tentara Jepang mendarat pertama kali di Indonesia pada tanggal 11 Januari 1942 di Pulau Tarakan Kalimantan dengan misi utama menguasai Indonesia untuk dijadikan pangkalan militer dalam upaya menghalau tentara sekutu pimpinan Amerika Serikat pasca serangan atas Pearl Harbour tahun 1941.

Pemerintah Kempetai Jepang ( Gunseikan ) lalu memastikan penguasaan atas teritori Indonesia secara keseluruhan dengan cara memaksa pula secara ideologis agar bangsa Indonesia tunduk pada aturan Dai Nippon terutama menghadap Matahari pada pukul 6-7 pagi, dengan kata lain Jepang memaksa rakyat Indonesia untuk melakukan Seikirei ( menghadap Dewa Matahari ).

Tidak terkecuali pemuda Abdul Gani, ketika dikumupulkan oleh Tentara Jepang ia dipaksa untuk melakukan Seikirei, namun Abdul Gani menolak keras karena itu dianggap merubah aqidah Islam. Meski ditekan secara fisik Abdul Gani tetap menolaknya.

Satu tahun kemudian di tahun 1944 berdasarkan permintaan Jepang kepada Rois Akbar NU Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy’ari untuk menyiapkan pemuda pemuda sukarelawan agar nanti dididik militer oleh tentara Jepang, atas permintaan itulah mbah Hasyim membentuk Laskar Hizbulloh.

Laskar Hizbulloh secara resmi dinamai Kaikyō Seinen Teishintai pada 8 Desember 1944 oleh pemerintah Kempetai Jepang. Pada 28 Februari 1945 Laskar Hizbulloh mengikuti pendidikan militer di Cibarusah Bekasi dulu masih wilayah Bogor. Pada angkatan pertama, Jepang melatih 500 pemuda pemuda santri yang masuk Hizbulloh itu pilihan dari berbagai pesantren di Jawa dan Madura.

Adapun Hizbulloh wilayah Banten dipimpin oleh Abdul Kabir Petir ( kelak KH. Abdul Kabir ) berdasarkan penunjukan Mbah Hasyim karena Abdul Kabir adalah santri Tebuireng. Adalah pemuda Amin dari Koper dan pemuda Abdul Gani dari Kresek diajak bergabung oleh pemuda Abdul Kabir dalam Laskar Hizbulloh tersebut dan ikut pendidikan militer selama 6 bulan di Cibarusah.

Ikut Perang

Pasca Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia tidak benar benar lepas dari cengkraman penjajah, meski Jepang kalah oleh Sekutu tetapi justru Sekutu pimpinan Amerika mengembalikan hak jajah pada Kerajaan Belanda.

Akhirnya Belanda kembali ke Indonesia dengan melakukan Agresi Militer petama pada tanggal 21 Juli 1947 untuk memastikan peralihan hak jajah kembali. Tetapi pemerintah Indonesia dan rakyat di berbagai daerah menyambutnya dengan perang.

Abdul Gani sebagai anggota Laskar Hizbulloh ikut berperang dalam Agresi militer pertama tahun 1947 dan Agresi Militer kedua tahun 1948 melawan tentara Belanda di daerah Gorda Serang. Abdul Gani yang sudah kaya itu membiayai perang dari kantongnya sendiri untuk membeli senjata, amunisi dan konsumsi untuk pemuda pemuda laskar dan TKR ( Tentara Keamanan Rakyat ) divisi 1000 Maulana Yusuf.

Dari keterlibatan ikut perang di era revolusi kemerdekaan itulah di kemudian hari Abdul Gani dianugerahi sertifikat Veteran perang dan berhak mendapat gaji pensiunan Veteran, namun Abdul Gani tidak pernah mengambilnya.

Berkeluarga

Saat masih era penjajahan Abdul Gani menikahi perempuan bernama Siti Rohani dan dianugerahi 9 anak yaitu Samlawi ( kelak KH. Samlawi ), Syatibi ( kelak Drs. KH. Syatibi anggota DPRD GR DKI Jakarta dan Wakil Ketua DPRD DKI ), Syafiudin ( KH. Syafiudin ), Salhah, Jasifah, Muzayanah, Supri, Asiyah dan terakhir Wahab.

Lalu Abdul Gani menikah untuk kedua kalinya dengan Siti Rogayah dan dianugerahi 9 anak yaitu Khodijah, Azzah, Salehudin, Syis ( kelak dikenal H. Syis Abdul Gani anggota DPRD Kab. Tangerang ), Rahmat ( kelak dikenal Drs. H. Rahmat Abdul Gani anggota DPRD Provinsi Banten ), Usman ( kelak dikenal Drs.H. Usman Abdul Gani anggota DPRD Tangerang ), Ali Nurdin ( kelak dikenal H. Ali Nurdin Abdul Gani, SH anggota DPRD Banten ), Afifah dan terakhir Jamilah ( kelak dikenal Hj. Jamilah Abdul Gani anggota DPRD DKI Jakarta ).

Dari pernikahan 2 istri inilah Abdul Gani yang sudah masyhur dikenal KH. Abdul Gani, orang orang Kresek dan seputarnya menjuluki keluarganya dengan keluarga 99 dimaksud 9 anak istri pertama dan 9 lagi anak istri kedua.

Amal Usaha

Di masa normalisasi kehidupan kebangsaan Indonesia dengan ditandai Mosi Integral yang disampaikan Perdana Menteri Mr. Mohammad Natsir pada tanggal 3 April 1950 untuk menyatukan kembali Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) maka berdampak pula pada keberlangsungan prihidup masyarakat yang tinggal di kota-kota di desa-desa dan kampung seluruh daerah Indonesia.

Tidak terkecuali kehidupan H. Abdul Gani yang sejak kecil ditempa dagang oleh orang tuanya hingga karakternya di kemudian hari membentuknya sebagai pengusaha yang berjiwa dermawan.

Sejak muda mulai berdagang kain dan sarung ( sarung gebeng ), lalu berjalannya waktu dikembangkan untul berdagang emas dengan membangun Toko Emas di Pasar Kresek, dan tidak berhenti pada usaha dagang Emas H. Abdul Gani pun membuka Toko Material.

Usaha dagang Emas ini maju pesat hingga H. Abdul Gani dipercaya oleh PT. ANTAM sebagai Agen Besar Emas untuk daerah Tangerang. Ini menunjukan usahanya berhasil dan sukses besar mewujudkannya sebagai orang kaya baru dan masyarkat menyebutnya ” Wong Sugih sing Loman “.

Bukan hanya usaha Emas, H. Abdul Gani pun memiliki usaha PO Bus antar kota rute Kresek-Balaraja dan Balaraja-Serang. Inilah yang kemudian mengantarkannya sebagai orang kaya yang punya aset miliaran di era itu ( 1960-1970 ). Selain itu puluhan hektar sawah di Kresek dibeli oleh H. Abdul Gani dan karena itulah beliau dikenal sebagai orang Kresek yang paling banyak sawahnya.

Pengabdian Masyarakat

Sebelum memasuki era Demokrasi Terpimpin pada tahun 1951 Perdana Menteri Mr. Mohammad Natsir datang ke Kresek atas lobi KH. Abdul Kabir yang juga sebagai anggota Konstituante RI untuk meresmikan gedung sekolah PGA ( Pendidikan Guru Agama ) yang berlokasi di Kresek.

Pembangunannya atas biaya pribadi H. Abdul Gani sebagai sikap ikut serta mengisi kemerdekaan yang dulu bersama laskar Hizbuloh memperjuangkannya. H. Abdul Gani ingin mengembangkan sumber daya manusia terutama untuk warga Kresek dan umumnya Tangerang agar terdidik secara pendidikan formal.

Selain mendirikan PGA, H. Abdul Gani pun mendirikan Madrasah Al-Khaeriyah di Kandang Gede terutama kebutuhan masyarakat akan pendidikan agama. Setelah pendirian Al-Khaeriyah selesai maka dilanjutkan mendirikan Manbaul Hikmah di Renged yang kemudian diasuh oleh KH. Qolyubi, dan membangun Masjid Jami Arohaniyah di depan Pasar Kresek, lalu mendirikan Yayayasan Arruhaniyah di Tanjung Priok Jakarta Utara.

Pada tahun 1977 KH. Abdul Gani mendirikan Sekolah SMP yang kemudian hari diakuisisi pemerintah daerah Tangerang menjadi SMPN 1 Kresek. Saat peresmian SMP itu Gubernur Jawa Barat H. Aang Kunaefi datang ke Kresek untuk meresmikan gedung yang dibangun dengan biaya pribadi KH. Abdul Gani tersebut. Dimungkinkan H. Aang Kunaefi adalah teman seperjuangan KH. Abdul Gani saat revolusi kemerdekan dulu.

Membiayai Kegiatan NU

Menurut KH. Sambas Binuang santrinya Abah KH. Abdul Kabir tokoh muharrik besar NU di Banten telah menceritakan bahwa setiap ada kegiatan NU kegiatan GP Ansor, Tabligh Akbar dan Bahtsul Masail kiai kiai NU Banten baik yang digelar di Petir, di Sampang Tirtayasa, di Kresek, di Serang, di Koper selalu ditanggung biayanya oleh KH. Abdul Gani karena mahabbah pada kiai terutama kepada KH. Abdul Kabir dan KH. Amin Koper ( ayahnya Wapres RI Prof. KH. Maruf Amin ).

Banyaknya unit unit usaha yang dimilki oleh KH. Abdul Gani itu tentu dibantu oleh tangan tangan terampil terutama dalam pencatatan uang masuk dan uang keluar. Maka KH. Abdul Gani menunjuk H. Alie Rafiudin ( Ayahnya KH. Maemun Alie ) sebagai Katib pribadi beliau.

Kebiasaan keseharianya sebagai pengusaha yang beromset miliaran tersebut KH. Abdul Gani adalah memberi bekel ke santri-santri yang mau berangkat mondok ke pesantren yang jauh di luar Kresek dan Banten. Kedermawanan atas kegiatan NU dan terhadap kalangan santri sampai pada wafatnya di tahun 1977 M.

Wafat

Pada 3 Mei 1977 setelah dirawat di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta Pusat akibat gagal ginjal, KH. Abdul Gani minta anaknya tertutama kepada Drs. KH. Syatibi Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta agar mengurungkan niat untuk membawanya ke RS Singapore.

Setelah 3 bulan kepulangannya dirawat di Rumah Sakit Cipto, sang Miliarder yang dermawan KH. Abdul Gani menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang di rumahnya di Kresek.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *