Nasionalisme dan Peristiwa “Geger Cilegon”

Oleh : HAIRUZAMAN.

(Penulis Buku dan Praktisi Pers)

Medio Maret 2024, bertepatan dengan bulan suci ramadhan tahun 1445 Hijriah, saya dan beberapa rekan wartawan, diundang secara khusus oleh Danrem 064/Maulana Yusuf, Brigjen TNI Fierman Sjafrial Agustus, di ruang kerjanya untuk berdiskusi terkait kedaulatan negara, nasionalisme dan peristiwa “Geger Cilegon”.

Tak lekang dari ingatan, dari tiga orang Danrem yang berpangkat Brigjen, yang saya kenal, baru kali ini rekan-rekan pers diundang secara khusus untuk berdiskusi. Topik diskusinya pun mengajak rekan-rekan awak media agar terus mengobarkan api semangat nasionalisme. Brigjen TNI Fierman pun mengingatkan bahwa masyarakat Banten patut berbangga. Pasalnya, selain ada nama Diponegoro sebagai Pahlawan Nasional, ternyata Pejuang pertama di Indonesia itu berasal dari Banten bernama Kyai Washid.

Kyai Washid merupakan sosok ulama kharismatik dan cukup.disegani yang kali pertama memimpin perlawanan terhadap bangsa penjajah. Meletusnya pertempuran antara pribumi dengan kaum penjajah itu dikenal dengan peristiwa “Geger Cilegon” pada tahun 1888. Sebuah peristiwa fenomenal perlawanan sengit para petani di Banten untuk lepas dari belenggu kaum penjajah.

Belajar dari sejarah meletusnya peristiwa “Geger Cilegon” yang dikomandoi oleh Kyai Washid itu, Danrem 064/MY, Brigjen TNI Fierman, berpesan agar api semangat nasionalisme masyarakat Banten tak boleh pudar. Hal ini guna menjaga keutuhan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Jendral bintang satu ini berdecak kagum. Karena pejuang pertama kali di Indonesia yang melakukan perlawanan sengit terhadap bangsa penjajah itu berasal dari Banten yang dipimpin oleh Kyai Washid. Tujuannya ialah untuk menjaga kedaulatan NKRI dan melawan kolonialisme yang menyengsarakan kehidupan rakyat Indonesia.

Orang nomor satu di Korem 064/MY, ini berpesan agar kedaulatan NKRI harus tetap dijaga. Jangan sampai terulang kembali bangsa Indonesia “dicabik-cabk” oleh bangsa penjajah yang pada gilirannya dapat menyengsarakan kehidupan rakyat.

Peristiwa “Geger Cilegon” yang pecah pada tahun 1888 merupakan tonggak sejarah yang harus terus dikenang sepanjang masa. Rakyat Indonesia tak boleh lengah untuk menjaga keutuhan NKRI. Jangan sampai semangat nasionalisme kita tergerus oleh “hingar-bingar” kemajuan peradaban. Karena itu, api semangat nasionalisme harus terus berkobar. **

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *