Reportase : Ilham Nurdiansyah Putra
CILEGON | Harian Expose.com —
Paguyuban Pedagang Warung dan Nelayan Tanjung Peni mengajak Pemerintah Kota Cilegon untuk melibatkan mereka dalam pembahasan kerja sama terkait pengelolaan akses jalan kawasan pesisir yang selama bertahun-tahun dibangun dan dirawat melalui gotong royong masyarakat.
Kelompok yang dipimpin Toyibah ini menyampaikan, mereka merasa terpinggirkan karena rencana kerja sama dengan PT Krakatau Steel melalui PT PCM diambil tanpa mendengar aspirasi warga yang sejak awal merintis kawasan tersebut.
“Jalan ini bukan hasil proyek pemerintah atau industri, melainkan buah keringat bersama nelayan dan pedagang yang secara mandiri mengangkut material, memperkuat akses, dan membuka wilayah yang awalnya minim infrastruktur,” jelas Toyibah dalam wawancara pada Sabtu (31/1/2026).
Sejak awal pembangunan, kawasan Tanjung Peni telah menjadi tempat penghidupan dan aktivitas ekonomi bagi masyarakat setempat. Berbagai kali pula warga harus bergerak memperbaiki jalan yang mengalami kerusakan akibat aktivitas perusahaan terkait, bahkan pernah menghadapi konflik atas klaim kawasan. Meskipun demikian, komitmen warga untuk menjaga akses tersebut tidak pernah pudar.
Kekecewaan muncul setelah informasi mengenai kesepakatan kerja sama beredar. Toyibah menegaskan bahwa prinsip pengelolaan kawasan pesisir seharusnya berpihak pada rakyat yang telah lama menjaga dan menghidupi wilayah tersebut. “Seratus meter dari bibir pantai adalah hak negara yang harus diperuntukkan bagi rakyat. Kami bukan hanya penonton dalam pembangunan, melainkan perintis yang memiliki anak cucu yang akan terus hidup di sini,” ucapnya dengan tegas.
Meskipun tidak menolak pembangunan, paguyuban menekankan bahwa pembangunan sejati harus mengedepankan keadilan sosial. Mereka menginginkan agar Pemkot Cilegon tidak gegabah menindaklanjuti kesepakatan sebelum melakukan musyawarah bersama masyarakat terdampak.
“Tolong berikan kesempatan bagi kami untuk hadir dalam pembahasan. Jangan putuskan nasib kami tanpa kami,” pungkas Toyibah.
Suara nelayan dan pedagang kecil Tanjung Peni menjadi pengingat bahwa dalam gelombang investasi dan pembangunan pelabuhan yang tengah berlangsung, keberpihakan pada masyarakat yang telah lebih dulu menjaga kawasan merupakan pondasi penting bagi pembangunan yang berkelanjutan.