Filosofi Memukul Bedug Sebelum Sholat Jum’at

Oleh : KH. Hamdan Suhaemi, MA.

(Pengurus MUI Provinsi Banten)

Bedug umum dikenal oleh muslim Nusantara sebagai penanda datangnya waktu sholat ( bukan panggilan sholat), awal puasa, dan juga menyambut hari raya seperti Idul fitri atau Idul adha. Bedug di Jawa atau tabuh di Sumatera memang sangat identik dengan masjid atau surau di Nusantara ( Arif Efendi : 2024 ).

Dalam Kidung Malat di bagian Pupuh ke 59, disebutkan bahwa bedug berfungsi sebagai media untuk mengumpulkan penduduk dari berbagai desa dalam rangka persiapan perang. Kidung Malat ini masuk buku sastra berbentuk kidung, yang ditulis di era Kerajaan Majapahit abad 13-15 M.

Dari informasi yang dicatat dalam Kidung Malat tersebut kita memahami bahwa bedug adalah murni produk budaya nusantara sejak berabad-abad lamanya, hingga sampai sekarang bertahan.

Sebagai alat yang menghasilkan suara itu digunakan untuk penanda waktu sholat, dan itu bukan ranah bid’ah seperti yang dituduhkan oleh pendakwah salafi Wahabi. Karena dari dulu hingga kapanpun tidak sebagai pengganti adzan, itu artinya tidak menyalahi syari’at.

Dalam kaitan ini, bedug bagi masyarakat muslim Banten juga difungsikan sebagai alat penanda waktu sholat telah tiba. Namun khusus pada hari Jum’at, sebelum tiba waktu dhuhur, pada pukul 10 dan pada pukul 11, bukan karena perintah imam sholat, muadzin, atau ketua DKM Masjid tapi karena itu adat kebiasaan sebagai ciri khusus sebelum sholat jum’at.

Menurut Yadi Ahyadi, seorang pengkaji filologi Banten menjelaskan bahwa memukul bedug sebelum tiba waktu sholat jum’at, jumlah pukulannya itu 24 kali, dengan pengertian bahwa waktu satu hari itu 24 jam.

Namun, 24 pukulan tersebut dibagi jadi tiga kali tahap, pada tahapan pertama itu 12 pukulan dengan jeda 5 menit, kemudian 8 pukulan dengan jeda menit hingga 4 pukulan dengan cepat, hingga semuanya 24 kali pukul bedug.

Arti 12 pukulan itu adalah bahwa satu hari ada siang ada malam, hitungan siang 12 jam, dan hitungan malam juga 12 jam, itu adalah rotasi kehidupan manusia. Sedangkan 8 pukulan artinya masa bekerjanya manusia itu cukup 8 jam, baik di kantoran, pabrik, sawah dan ladang serta pada tempat lainnya. Lalu 4 pukulan secara cepat itu diartikan sebagai pengingat waktu di dunia itu adalah cepat.

Adapun bedug dipukul jam 10 untuk mengingatkan bahwa waktu bekerja di hari jumat harus segera dituntaskan, dan bedug dipukul jam 11 adalah jeda istirahat dan persiapan ke masjid, mandi ( istibahati sholati al-Jum’ati ) dan memakai wewangian.

Disini kita dapat pemahaman bahwa antara agama dan budaya saling menguatkan, agama tanpa budaya akan tampak kaku, dan budaya tanpa agama bisa tanpa arah. Keduanya saling menguatkan meski keduanya berbeda. Agama bukan budaya, dan budaya pun bukan agama. Di masyarakat muslim Nusantara agama dan budaya disatukan untuk kedamaian dan kekhusyukan beragama.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *