Kampung Karang Mandebulu, Surga Terapung Suku Bajo di Tengah Samudra

Banggai Laut | HARIAN EXPOSE.com —

Ada sebuah tempat di Indonesia di mana konsep tentang kampung harus didefinisikan ulang. Jika biasanya kampung identik dengan hamparan tanah, pepohonan, jalan setapak, dan suara ayam berkokok di pagi hari, maka di Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah, ada sebuah kampung yang menolak semua definisi itu. Namanya adalah Karang Mandebulu, atau sering juga disebut Mandehulu oleh lidah lokal, sebuah gugusan rumah kayu yang berdiri angkuh di atas atol karang di tengah laut lepas, jauh dari daratan mana pun, tanpa tanah, tanpa sumur, tanpa listrik PLN.

Untuk mencapai Mandebulu, kita harus berlayar berjam-jam dari ibu kota Kabupaten Banggai Laut, Banggai. Perahu motor kecil akan membelah birunya Laut Banda, melewati pulau-pulau karang yang kosong, hingga di cakrawala terlihat titik-titik coklat yang ternyata adalah atap-atap rumah. Semakin dekat, air laut yang tadinya biru tua berubah menjadi biru toska yang bening, begitu beningnya hingga bayangan perahu dan tiang-tiang rumah terlihat jelas di dasar karang, menciptakan ilusi bahwa perahu dan rumah itu melayang di udara.

Mandebulu bukanlah pulau, ia adalah karang. Para tetua Suku Bajo menyebut fondasi kampung ini sebagai “Apo”, yaitu tumpukan batu karang mati yang dikumpulkan secara turun-temurun, ditata, dan dipadatkan hingga membentuk sebuah daratan artifisial yang kokoh di atas terumbu karang yang hidup. Di atas Apo inilah mereka mendirikan rumah-rumah panggung dari kayu, dengan kolong yang langsung menghadap ke laut yang menjadi halaman, jalan, sekaligus sumber kehidupan mereka.

Penduduk Mandebulu adalah Suku Bajo, atau dalam bahasa mereka sendiri disebut Suku Same atau Suju. Mereka adalah bagian dari diaspora besar Suku Bajo yang tersebar dari Filipina, Sabah Malaysia, hingga ke seluruh pelosok Indonesia Timur, mulai dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara, hingga Maluku. Dunia mengenal mereka dengan julukan Sea Gypsies atau Gipsy Laut, sebuah julukan yang menggambarkan sejarah panjang mereka sebagai manusia perahu yang hidup berpindah-pindah di atas perahu yang disebut lepa atau bido’.

Asal-usul Suku Bajo masih menjadi perdebatan para sejarawan dan antropolog. Versi yang paling populer dan diceritakan secara turun-temurun di kalangan mereka sendiri adalah kisah dari Johor, Malaysia. Konon, seorang Raja Johor memiliki seorang putri yang cantik jelita yang melarikan diri. Raja kemudian memerintahkan para pengawalnya, yang merupakan pelaut-pelaut ulung, untuk mencari sang putri hingga ke seluruh penjuru nusantara. Pencarian panjang itu membawa mereka hingga ke Sulawesi, di mana sang putri akhirnya ditemukan telah menikah dengan seorang pangeran Bugis dan memutuskan untuk menetap di sana.

Para pencari yang gagal membawa pulang sang putri merasa malu untuk kembali ke Johor, sehingga mereka memutuskan untuk tetap tinggal dan menetap di laut, tidak kembali ke daratan, sebagai bentuk kesetiaan dan penyesalan. Dari sinilah mereka kemudian menyebar dan menjadi Suku Bajo yang kita kenal sekarang. Versi lain menyebutkan bahwa mereka berasal dari Teluk Tomini dan Kepulauan Togian, atau bahkan dari Palopo. Terlepas dari mana asal-usul yang paling benar, yang jelas identitas mereka sebagai anak laut adalah identitas yang tidak bisa dipisahkan.

Di Mandebulu, identitas sebagai anak laut itu hidup dalam bentuknya yang paling murni. Anak-anak di Mandebulu belajar berenang bahkan sebelum mereka lancar berjalan. Pada usia tiga atau empat tahun, mereka sudah diceburkan ke laut oleh orang tuanya, belajar mengapung, belajar menahan napas. Pada usia tujuh tahun, mereka sudah bisa menyelam beberapa meter untuk mengambil kerang atau membantu orang tua menarik jaring. Mata mereka yang terbiasa melihat di bawah air memiliki kemampuan yang luar biasa untuk berakomodasi melihat dengan jelas di dalam air keruh, sebuah adaptasi evolusi yang telah diteliti oleh para ilmuwan.

Kehidupan sehari-hari di Mandebulu sepenuhnya bergantung pada laut. Pagi hari, para lelaki berangkat melaut dengan perahu-perahu kecil bercadik untuk mencari ikan dengan cara-cara tradisional yang ramah lingkungan, menggunakan panah, tombak, atau bubu. Mereka mengenal betul musim angin, arus, dan tanda-tanda alam. Mereka tidak melaut dengan GPS, tetapi dengan membaca bintang, membaca warna air, dan merasakan hembusan angin. Pengetahuan ini diwariskan secara lisan dari ayah ke anak, sebuah ensiklopedia kelautan yang hidup.

Perempuan-perempuan Bajo di Mandebulu memiliki peran yang tidak kalah penting. Mereka mengelola hasil tangkapan, menjemur ikan untuk dijadikan ikan asin, menganyam atap dari daun nipah, dan menjaga rumah. Di sela-sela kesibukan itu, mereka juga menjadi penjaga tradisi, mengajarkan bahasa Bajo kepada anak-anak, menyanyikan lagu-lagu lama, dan menceritakan kisah-kisah tentang Umbo Mandilao, sang penjaga laut yang dipercaya sebagai roh yang menjaga keseimbangan laut dan harus selalu dihormati dengan tidak mengambil laut secara serakah.

Salah satu hal yang paling mencolok ketika pertama kali menginjakkan kaki di Mandebulu adalah ketiadaan listrik dari PLN dan ketiadaan air tawar. Karena kampung ini berdiri di atas karang di tengah laut, tidak ada sumber air tanah. Untuk mendapatkan air tawar, warga harus membeli atau mengambil dengan perahu dari daratan Banggai yang jaraknya berjam-jam, dengan biaya yang tidak murah. Air hujan ditampung sebisa mungkin, namun di musim kemarau, krisis air adalah hal yang biasa.

Begitu pula dengan listrik, Mandebulu hidup dalam kegelapan yang diterangi oleh remang-remang lampu tenaga surya kecil dan genset diesel yang hanya dinyalakan beberapa jam di malam hari untuk mengisi daya ponsel atau menonton televisi. Tidak ada kulkas, tidak ada AC, tidak ada kenyamanan modern yang biasa kita nikmati di daratan. Namun, justru dalam keterbatasan inilah terlihat ketangguhan mental Suku Bajo yang luar biasa, sebuah ketangguhan yang dibentuk oleh lautan selama ratusan tahun.

Di malam hari, Mandebulu adalah salah satu tempat terbaik untuk melihat langit. Tanpa polusi cahaya dari kota, langit di atas Mandebulu dipenuhi oleh jutaan bintang yang bertaburan, Bima Sakti terlihat jelas membentang dari ujung ke ujung. Suara yang terdengar hanyalah debur ombak yang menghantam tiang-tiang rumah, suara anak-anak yang tertawa, dan sesekali suara genset yang menderu. Keheningan ini adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan uang di kota besar.

Secara ekologis, Karang Mandebulu adalah sebuah surga yang sangat rapuh. Terumbu karang di sekitar kampung masih sangat terjaga keasriannya, menjadi rumah bagi ribuan spesies ikan karang, penyu, dan biota laut lainnya, termasuk ikan endemik yang sangat terkenal yaitu Banggai Cardinalfish atau Capungan Banggai, sebuah ikan hias kecil berwarna hitam perak yang hanya ditemukan di perairan Banggai dan kini menjadi primadona di pasar ikan hias internasional.

Keberadaan Banggai Cardinalfish ini menjadi berkah sekaligus ancaman bagi warga Mandebulu. Di satu sisi, ikan ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi, namun di sisi lain, eksploitasi yang berlebihan oleh pihak luar untuk perdagangan ikan hias telah mengancam kelestariannya. Warga Mandebulu sendiri, dengan kearifan lokalnya, memiliki aturan-aturan tidak tertulis tentang kapan boleh menangkap dan kapan harus berhenti, sebuah sistem konservasi tradisional yang jauh lebih efektif daripada peraturan pemerintah.

Namun, tantangan terbesar bagi Mandebulu bukanlah dari dalam, melainkan dari luar. Perubahan iklim yang menyebabkan kenaikan suhu air laut telah menyebabkan pemutihan karang di beberapa tempat. Sampah plastik yang terbawa arus dari daratan juga mulai mencemari keindahan atol mereka. Dan yang paling mengkhawatirkan adalah rencana pembangunan dan investasi yang tidak mempertimbangkan keberadaan kampung-kampung terapung seperti Mandebulu, yang seringkali dianggap sebagai kampung liar karena tidak memiliki sertifikat tanah.

Secara hukum formal, warga Mandebulu hidup di atas lahan yang tidak memiliki sertifikat. Karena mereka hidup di atas laut, di atas karang, negara seringkali bingung untuk mengkategorikan mereka. Apakah mereka nelayan? Apakah mereka pemukim? Status hukum yang tidak jelas ini membuat mereka seringkali terpinggirkan dari program-program pembangunan pemerintah, mulai dari bantuan pendidikan, kesehatan, hingga infrastruktur. Mereka adalah warga negara yang hidup di perbatasan definisi.

Meskipun demikian, warga Mandebulu tidak pernah mengeluh. Mereka memiliki filosofi hidup yang sangat sederhana namun mendalam, yaitu bahwa laut adalah saudara, laut adalah ibu, laut adalah segalanya. Dalam bahasa Bajo, ada ungkapan “di lao denakangku”, yang berarti laut adalah saudaraku. Mereka tidak pernah menganggap laut sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan, melainkan sebagai sesuatu yang harus diajak berdamai dan dijaga keseimbangannya.

Filosofi ini tercermin dalam cara mereka menangkap ikan. Mereka tidak menggunakan bom atau potasium yang merusak karang, mereka menggunakan cara-cara yang selektif dan berkelanjutan. Mereka hanya mengambil apa yang mereka butuhkan untuk hari itu, tidak menimbun secara berlebihan. Mereka percaya bahwa jika mereka serakah, maka Umbo Mandilao akan marah dan laut tidak akan lagi memberikan rezeki kepada mereka.

Pendidikan formal di Mandebulu juga merupakan tantangan tersendiri. Sekolah dasar terdekat berada di pulau lain yang harus ditempuh dengan perahu. Banyak anak-anak yang putus sekolah karena harus membantu orang tua melaut atau karena biaya transportasi yang mahal. Namun, di sisi lain, mereka memiliki pendidikan kehidupan yang jauh lebih kaya daripada anak-anak di kota, yaitu pendidikan tentang laut, tentang bintang, tentang arus, dan tentang bertahan hidup.

Di tengah keterisolasian ini, Mandebulu kini mulai dilirik sebagai destinasi wisata ekowisata yang eksotis. Beberapa wisatawan petualang dan peneliti dari dalam dan luar negeri mulai berdatangan untuk melihat langsung kehidupan Suku Bajo yang autentik. Kehadiran wisatawan ini membawa harapan baru akan peningkatan ekonomi, namun juga membawa kekhawatiran akan perubahan budaya dan kerusakan lingkungan jika tidak dikelola dengan bijak dan berbasis masyarakat.

Wisata yang ideal untuk Mandebulu bukanlah wisata massal dengan resort mewah, melainkan wisata berbasis masyarakat di mana wisatawan tinggal di rumah-rumah warga, makan apa yang dimakan warga, dan belajar cara hidup ala Suku Bajo. Wisata seperti ini tidak hanya memberikan pendapatan ekonomi bagi warga, tetapi juga memberikan penghargaan terhadap kebudayaan mereka dan mendorong mereka untuk tetap menjaga kelestarian terumbu karang sebagai aset utama pariwisata.

Pemerintah Kabupaten Banggai Laut sebenarnya telah memiliki perhatian terhadap kampung-kampung terapung seperti Mandebulu, dengan beberapa program bantuan tenaga surya dan bantuan perahu. Namun, program-program ini seringkali bersifat sporadis dan tidak berkelanjutan. Dibutuhkan sebuah kebijakan afirmatif yang komprehensif yang mengakui keberadaan kampung di atas laut sebagai sebuah entitas hukum yang sah dan memiliki hak yang sama dengan kampung-kampung di daratan.

Mandebulu juga memberikan pelajaran penting tentang konsep kepemilikan dalam masyarakat Bajo. Bagi mereka, laut tidak bisa dimiliki secara pribadi, laut adalah milik bersama yang harus dijaga bersama. Konsep Apo, yaitu fondasi karang yang dibangun bersama, adalah contoh nyata dari semangat gotong royong dan kepemilikan komunal. Tidak ada yang mengklaim bahwa tumpukan karang ini adalah miliknya pribadi, semuanya adalah milik kampung, milik bersama.

Di era ketika kita di daratan sibuk berebut sertifikat tanah, berebut batas-batas properti, dan membangun pagar-pagar tinggi untuk memisahkan diri dari tetangga, warga Mandebulu hidup tanpa pagar, tanpa batas, tanpa sertifikat, namun dengan rasa kebersamaan yang sangat kuat. Pintu rumah mereka selalu terbuka, makanan selalu dibagi, dan kesulitan selalu ditanggung bersama. Laut telah mengajarkan mereka bahwa untuk bertahan hidup di tengah samudra yang luas dan ganas, manusia harus saling membantu.

Ketika matahari terbenam di Mandebulu, pemandangan yang tersaji adalah salah satu pemandangan paling magis di Indonesia. Langit berubah menjadi semburat oranye, merah muda, dan ungu, memantul di permukaan air yang tenang seperti cermin raksasa. Perahu-perahu kecil kembali dari melaut dengan hasil tangkapan yang menggantung di haluan. Asap dari dapur-dapur kayu mulai mengepul, menandakan waktu makan malam bersama. Anak-anak berlari-lari di atas papan-papan kayu yang menghubungkan rumah-rumah, tertawa riang tanpa beban.

Di momen seperti inilah kita menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu berbanding lurus dengan kemewahan materi. Warga Mandebulu mungkin tidak memiliki listrik 24 jam, tidak memiliki air tawar yang melimpah, tidak memiliki jalan beraspal, namun mereka memiliki sesuatu yang banyak dari kita di kota telah kehilangan, yaitu kedamaian, kebersamaan, dan hubungan yang harmonis dengan alam. Mereka hidup dengan sedikit, namun merasa cukup.

Karang Mandebulu adalah pengingat bahwa Indonesia bukan hanya tentang Jawa, Sumatera, atau Bali. Indonesia adalah tentang ribuan kisah seperti Mandebulu yang tersebar di seluruh penjuru nusantara, kisah-kisah tentang manusia-manusia tangguh yang memilih untuk hidup di perbatasan, di tempat-tempat yang oleh kebanyakan orang dianggap tidak mungkin untuk dihuni. Kisah-kisah inilah yang membuat Indonesia menjadi negara yang kaya, bukan hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi kaya akan cara-cara manusia beradaptasi dengan alam.

Sebagai bangsa maritim yang mengaku sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, kita seringkali melupakan bahwa kita memiliki suku bangsa yang seluruh hidupnya memang berada di laut, yaitu Suku Bajo. Kita membangun tol laut, kita membangun pelabuhan besar, namun kita seringkali lupa untuk membangun jembatan kemanusiaan kepada saudara-saudara kita yang hidup di kampung-kampung terapung seperti Mandebulu, yang membutuhkan perhatian, pengakuan, dan perlindungan.

Oleh karena itu, menulis tentang Mandebulu bukan hanya sekadar menulis tentang sebuah destinasi wisata yang eksotis, tetapi juga menulis tentang sebuah refleksi, tentang bagaimana kita memandang pembangunan, tentang bagaimana kita memandang kemajuan, dan tentang bagaimana kita memandang kebahagiaan. Apakah kemajuan itu harus selalu berarti mengubah laut menjadi daratan, mengubah kampung terapung menjadi perumahan beton, atau kemajuan itu bisa berarti membiarkan Mandebulu tetap menjadi Mandebulu, dengan segala keunikan dan kearifan lokalnya?

Biarlah Karang Mandebulu tetap berdiri di sana, di tengah laut lepas Banggai Laut, Sulawesi Tengah, sebagai monumen hidup tentang ketangguhan Suku Bajo, tentang surga rumah terapung yang hidup selama berpuluh-puluh tahun jauh dari daratan, tanpa tanah dan listrik, namun kaya akan kehidupan, kaya akan cerita, dan kaya akan cinta terhadap samudra. Semoga suatu hari nanti, kita bisa datang ke sana, bukan sebagai turis yang hanya datang untuk berfoto, tetapi sebagai saudara yang datang untuk belajar tentang arti hidup yang sesungguhnya dari para guru terbaik, yaitu warga Karang Mandebulu, sang penjaga samudra. (Hrz/Red).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *