Akibat Oknum Kepala MAN 2 Pandeglang Arogan, Warga Tolak Eks Gedung MAN Dibongkar

0

Pengurus FMCPP Cihideung, menolak pembongkaran gedung eks MAN 2 Pandeglang. (FotoBudiana).

 

Pandeglang, Harianexpose.com –

Adanya sikap arogansi yang dilakukan oknum Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Pandeglang, terkait akan dibongkarnya eks gedung MAN di Cihideung yang berdiri di areal tanah wakaf, telah memicu masyarakat setempat dengan sikap “menolak pembongkaran bangunan gedung eks MAN di Cihideung”.

Pernyataan sikap tegas masyarakat Kampung Cihideung, Desa Batubantar, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, itu disalurkan melalui Forum Masyarakat Cihideung Peduli Pendidikan (FMCPP) yang dibentuk berdasarkan hasil musyawarah masyarakat Cihideung, belum lama ini.

Gedung eks MAN 2 Pandeglang,  yang dibongkar. (Foto : Budiana).

 

Hal itu diungkapkan Ketua FMCPP, Tatang Tohani, dan Sekretarisnya, Muhamad Fachrudin, kepada Harianexpose.com, ketika ditemui di Cihideung, Sabtu (12/12), sehubungan adanya pemasangan plang “Pernyataan Sikap” dan larangan masuk di tanah wakaf tanpa seizin FMCPP. Plang itu dipasang tepat di pintu masuk lokasi eks MAN 2 Pandeglang.

Pasalnya, di atas tanah wakaf seluas 2020 M² itu berdiri bangunan gedung eks MAN 2 Pandeglang yang akan dibongkar total berdasarkan hasil lelang di KPKNL Serang. Pembongkaran ini dilakukan karena MAN 2 Pandeglang sudah punya gedung baru di lokasi lain.

Padahal jauh sebelum dilakukan lelang, pihak pengelola tanah wakaf telah bersurat kepada Kepala MAN 2 Pandeglang bernomor 011/YAMCC/VII/2019 tanggal 29 Juli 2019, yang meminta agar segera mengembalikan asest wakaf yang dikelola Yayasan Al-Mujahidin Cihideung.

Pengelola tanah wakaf (kiri/berdua) ketika menyerahkan surat permohonan hibah atas gedung eks MAN 2 di Cihideung, kepada Kepala MAN 2 Pandeglang, H. Slamet (tengah) dikantornya (27/11). (Foto : Budiana).

 

Surat itu dilayangkan guna menyikapi adanya surat dari H. Slamet selaku Kepala MAN 2 Pandeglang tentang pemberitahuan pindah lokasi MAN 2 Pandeglang kepada Kepala Kemenag Kabupaten Pandeglang, dengan nomor B.584/Ma.28.01.03.02/HM.01/07/2019 tanggal 10 Juli 2019, yang juga ditembuskan kepada Pengurus Yayasan Al-Mujahidin Cihideung.

Akan tetapi, surat dari pengelola asset wakaf tanggal 29 Juli 2019 tersebut, yang juga ditembuskan kepada Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Banten dan Kepala Kemenag Kabupaten Pandeglang, ternyata tidak pernah ditanggapi oleh H. Slamet selaku Kepala MAN 2 Pandeglang.

Pengurus FMCPP ketika mengadakan rapat. (Foto : Budiana).

 

Hingga pada akhirnya sekitar Oktober 2020 masyarakat Cihideung dikejutkan dengan adanya pembongkaran atap gedung MAN tersebut. “Seluruh gentengnya diturunkan. Bahkan, daun pintu setiap ruang kelas pun dibongkar. Sehingga nampak bangunan gedung madrasah itu rusak parah”, ungkap Tb. Udi Mas’udi selaku pengurus yayasan dan nadzir tanah wakaf tersebut.

“Pembongkaran atap itu saya lakukan atas perintah Kepala KPKNL di Serang”, kata Kepala MAN 2 Pandeglang, H. Slamet kepada Harianexpose.com, ketika dikonfirmasi beberapa waktu lalu.

Hal itu kata Slamet, sesuai surat dari KPKNL tertanggal 29 September 2020 tentang Persetujuan Penghapusan Barang Milik Negara Karena Sebab-sebab Lain Pada Kementerian Agama Republik Indonesia cq MAN 2 Pandeglang.

Menjawab pertanyaan tentang dari mana biaya pembongkaran itu, Slamet mengaku pakai uang pribadinya. “Pembongkaran genteng itu pakai uang pribadi saya”, ujar Slamet. Namun, tidak dijelaskan berapa rupiah habisnya.

Pembongkaran yang dilakukan oknum Kepala MAN 2 Pandeglang itu diduga sebagai tindakan melawan hukum dan dapat di pidana. Sebab, pembongkaran itu dilakukan sebelum pihak KPKNL menetapkan pemenang lelang pembongkaran gedung MAN tersebut.

Oleh sebab itu, FMCPP akan tetap menolak pembongkaran gedung eks MAN 2 Pandeglang yang berdiri di atas tanah wakaf. “Sebaiknya bangunan gedung itu dihibahkan kepada pengelola wakaf untuk pendidikan Islam”, pinta Tatang Tohani.

Berikut kronologis sejarah berdirinya lembaga pendidikan agama Islam
di atas tanah wakaf masyarakat Cihideung.

Berawal dari wakaf atas nama H. Mustofa, seluas 2020 M² yang diwakafkan untuk kegiatan Madrasah Ibtidaiyah (MI) berdasarkan akte ikrar wakaf tanggal 17 Januari 1987 No. E. 07. 01/W.089/195/1987.

Bangunan didirikan sebanyak 6 (enam) lokal yang diperuntukkan MI dibangun sejak tahun 1950 dengan swadaya masyarakat Cihideung untuk kegiatan belajar mengajar pada sore hari. Pada tahun 1967 sampai dengan 1979, dipergunakan oleh Pendidikan Guru

Agama (PGA) 4 tahun dan menjadi Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) selama 6 tahun, dengan proses kegiatan belajar mengajar di pagi hari.

Tahun 1982 sampai dengan 1989, di pergunakan oleh Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Filial  Serang. Tahun 1991 sampai dengan 2019 dipergunakan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Pandeglang.

Adanya perubahan fisik renovasi terhadap bangunan lama
sebanyak 6 lokal menjadi 5 lokal (dua lokal dijadikan satu lokal). Adanya perubahan fisik bangunan yang dilakukan oleh MAN 2 Pandeglang antara
tahun 1990-an berjumlah 2 lokal di atas tanah wakaf.

Tanah wakaf digunakan
untuk kegiatan belajar mengajar sejak tahun 1969 sampai dengan 2019.

Laporan : Budiana.

Editor In Chief : Hairuzaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *