Wartawan Berprofesi Ganda Vs Conflict of Interest

0

Oleh : Hairuzaman.
(Editor In Chief Harianexpose.com)

Belakangan ini tak sedikit wartawan yang berprofesi ganda. Satu profesi sebagai wartawan, dan satu lagi aktif menjadi Pengurus di organisasi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Padahal profesi wartawan itu tak boleh ganda. Apalagi sebagai Pengurus organisasi  LSM. Karena hal ini akan menimbulkan Conflict of Interest (Konflik kepentingan).

Beberapa orang wartawan akhirnya memilih untuk meninggalkan aktifitasnya di LSM. Sebab, selain profesi wartawan itu tak boleh dirangkap, juga cara kerja wartawan itu lebih luas. Wartawan itu bisa melakukan kerja jurnalistiknya kemana saja dan kapan saja. Mau meliput berita ke luar kota atau ke luar negeri sekalipun. Tak ada yang bisa menghalangi. Wartawan juga bisa melakukan safari jurnalistik ke negara manapun yang sesuai dengan keinginannya. Hal ini bertujuan agar seorang wartawan mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang luas. Berbeda dengan LSM, daya jangkau kerjanya yang sangat terbatas. Bahkan, sangat berbeda sekali cara kerjanya seperti seorang wartawan.

Namun ketika wartawan berprofesi ganda, maka akan terjadi conflict of interest. Pasca melakukan liputan berita kasus misalnya, ia pun lalu berganti baju LSM. Celakanya lagi, wartawan tersebut menindak lanjuti berita kasus yang ditulisnya dengan melaporkannya kepada pihak yang berwajib. Sebab, ia pun tercatat sebagai Pengurus LSM tertentu. Sampai disini tentu saja akan terjadi conflict of interest. Sebab, tugas wartawan itu hanya mengumpulkan data dan fakta di lapangan, menulis berita dan mempublikasikannya di media massa tempatnya bekerja. Tak ada lagi pekerjaan tambahan untuk membuat laporan kepada pihak yang berwajib. Karena itu bukan tugas dan profesi seorang wartawan.

Setelah seorang wartawan melakukan tugas jurnalistiknya, kemudian biarkan para pembaca yang menilai berita tersebut. Apabila ada pihak yang menindak lanjuti berita yang ditulis wartawan, dengan membuat laporan ke pihak yang berwajib, maka itu di luar kompetensi wartawan. Karena hal itu bukan termasuk kategori kerja jurnalistik.

Profesi wartawan itu sebenarnya sangat mulia. Sebab, kerja jurnalistik itu ada sisi idealisme yang harus terus dikobarkan. Pers bukan hanya berfungsi sebagai sarana kontrol sosial. Akan tetapi, pers juga berfungsi sebagai sarana hiburan, informasi dan pendidikan bagi masyarakat. Sehingga pers nasional diharapkan menjadi garda terdepan dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara.

Apabila menelisik kerja jurnalistik tersebut di atas, maka tentu saja bagi seorang wartawan tak perlu berprofesi ganda lantaran akan terjadi kontradiktif. Ia harus serta merta menanggalkan atribut lainnya agar bisa bekerja sesuai dengan etika profesi kewartawanan. Bukan menjadi sosok yang hidup di dua dunia, terkadang menjadi wartawan dan kadang pula beratribut LSM. Sehingga pada gilirannya nanti akan menimbulkan conflict of interest. **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *