Black Compaign di Tahun Politik

Oleh : HAIRIZAMAN

(Penulis Buku dan Praktisi Pers)

Menjelang Pemilu 2024 mendatang, atmosfer politik tampak mulai memanas. Hal itu ditandai dengan kampanye hitam (Black Compaign) yang dilakukan oleh para pendukung kandidat Presiden. Masing-masing kubu saling menyerang yang notabene bernuansa negatif. Tentu saja tujuannya tak lain yakni guna membentuk opini publik dan menggiring para pemilih agar mendukung salah satu kandidat Presiden tettentu..

Saat ini nama-nama kandidat Presiden tampak sudah mulai mengkrucut. Sebut saja seperti Anies Baswedan, yang saat ini menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Prabowo Subianto, yang menjabat Menteri Pertahanan dan Ketua Umum Gerindra serta Ganjar Pranowo, yang menjabat Gubernur Jawa Tengah. Ketiga nama tokoh politik tersebut dipastikan bakal bsrtarung pada Pilpres 2024 mendatang.

Beberapa lembaga survei memang ada yang menyebut nama Anies Baswedan berada dipapan atas. Disusul dsngan Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo. Namun, banyak lembaga survei yang ditengarai “masuk angin” lantaran merupakan bayaran. Sehingga hasil survei tersebut tak bisa dijadikan sebagai rujukan.Tentu saja situasi itu hanya akan membuat keruh suhu politik di tanah air. Pasalnya, tak sedikit lembaga survei yang tidak bersifat independen.

Faktanya sekarang ini banyak kampanye yang dilakukan untuk menyerang lawan politiknya dengan melakukan kampanye gelap atau black campaign. Black campaign merupakan model kampanye dengan cara membuat suatu isu atau gosip yang ditujukan kepada pihak lawan, tanpa didukung oleh fakta atau bukti yang jelas (fitnah).

Black compaign saat ini terus dilakukan secara gencar oleh mesin politik masing-masing kandidat Presiden. Tujuannya untuk menggiring opini publik dan melakukan pembunuhan karakter. Topiknya mulai dugaan keterlibatan kasus korupsi hingga masalah pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM) yang dilakukan oleh salah satu kandidat Presiden.

Serangan yang bertubi-tubi dengan praktik Black Compaign itu nyaris menjadi dagelan politik lima tahunan. Para politisi bukan mempertontonkan vissi misi dan perubahan yang akan dilakukan oleh masing-masing kandidat Presiden. Bukan pula program kerja yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat.

Padahal rakyat saat ini sudah cerdas. Mereka tentu saja tidak akan terpengaruh dengan Black Compaign tersebut. Rakyat pun tak mungkin membeli kucing dalam karung. Sebab, rekam jejak para kandidat Presiden itu pasti akan ditelusuri agar tidak salah dalam menentukan pilihan pada Pilpres yang sejatinya bakal digelar pada 2024 mendatang. Sehingga Black Compaign barus ditinggalkan oleh para politisi. Karena hal itu dinilai sudah tidak populis dan dapat merusak tatanan kehidupan berdemokrasi.

Kita pun berharap sosok yang bakal menjadi Presiden merupakan pilihan rakyat. Dimana rekam jejaknya sudah teruji dan akan membawa perubahan besar bagi kehidupan bangsa ini. Sehingga kehidupan rakyat akan mengalami perubahan ke arah yang lebih baik lagi **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *