Kritik Mental Kepiting, Sindiran Prabowo untuk Politik Saling Jatuh

Oleh : Hairuzaman.

(Pemerhati Futurologi dan Masalah Sosial)

Istilah ‘bangsa kepiting’ meluncur dari Presiden Prabowo Subianto saat meluncurkan Biosolar B50 di Karawang, Jawa Barat, pada Kamis, 8 Juli 2026. Prabowo menyoroti mentalitas saling menjatuhkan yang disebutnya masih menjadi tantangan Indonesia.

“Dikatakan bahwa kita termasuk bangsa kepiting. Kepiting kalau rekannya sudah naik ke atas, kepiting yang di bawah nurunin dia lagi. Ada kepiting lain mau naik ke atas, kepiting lain nurunin dia lagi,” ujar Prabowo.

Ia menggambarkan mental itu sebagai senang melihat rekan susah, susah melihat rekan senang. Prabowo menduga sikap tersebut warisan sejarah panjang penjajahan yang menumbuhkan rasa rendah diri kolektif.

Golkar : Kelola Ketidakpuasan

Pernyataan itu ditanggapi Sekretaris Jenderal Partai Golkar, M. Sarmuji. Ia menilai ucapan Prabowo adalah peringatan agar bangsa ini tidak mengulangi kesalahan masa lalu.

“Itu adalah wanti-wanti pemimpin agar kita tidak terjerumus dalam kesalahan yang sama seperti masa lalu,” kata Sarmuji kepada wartawan, pada Sabtu, 11 Juli 2026.

Menurut Sarmuji, kunci dari pesan Prabowo adalah kemampuan mengelola ketidakpuasan. Ia menegaskan ketidakpuasan tidak boleh berubah menjadi iri dan dengki, apalagi dalam politik.

“Bangsa ini harus mampu mengelola ketidakpuasan. Ketidakpuasan tidak boleh menjadikan kita iri dan dengki. Jangan inginnya memimpin terus sementara kekuasaan pasti dipergilirkan,” ujarnya.

Ketua Fraksi Golkar DPR itu mengingatkan, siklus politik yang sehat menuntut semua pihak memberi ruang bagi yang sedang memimpin untuk bekerja. “Jangan sampai kita tidak sempat membangun karena saling menjatuhkan,” kata Sarmuji.

Batas Kritik dan Saling Jatuh

Lantas, apakah kritik terhadap pemerintah masuk kategori ‘mental kepiting’ yang dimaksud Prabowo? Sarmuji menegaskan tidak.

“Kritik yang konstruktif tentu tidak masuk kategori yang dimaksud presiden. Bahkan kritik diperlukan agar pemerintah tetap berada pada rel yang seharusnya,” tegasnya.

Baginya, kritik adalah bagian dari demokrasi yang sehat. Yang dikhawatirkan adalah kritik yang dilandasi iri dan niat menjatuhkan, bukan memperbaiki.

“Berilah kesempatan siapapun yang memimpin untuk dapat menjalankan kepemimpinan dengan baik dan menunaikan setiap janji,” imbuh Sarmuji.

Koalisi dan Stabilitas

Sindiran ‘bangsa kepiting’ itu muncul di tengah konsolidasi politik pasca-Pemilu 2024. Di acara yang sama, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sempat menyapa tiga gubernur dari Jawa: Jatim, Jabar, dan Jateng, dengan menyebut “koalisi aman”.

Pesan Prabowo soal ‘bangsa kepiting’ dapat dibaca sebagai penegasan pentingnya stabilitas. Bagi pemerintah, terlalu banyak energi politik yang habis untuk saling jegal hanya akan menghambat agenda pembangunan. **

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *