Peran Khadimul Ummah dan Shadiqul Hukumah MUI di Tengah Tantangan Zaman

Oleh: Hairuzaman.

 (Anggota Komisi Infokom MUI Banten).

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengemban tugas sebagai khadimul ummah (pelayan umat) dan shadiqul hukumah (mitra pemerintah). Sebuah tugas mulia menjadi garda terdepan dalam melakukan pembinaan serta pelayanan umat.

Sebagai khadimul ummah, MUI harus mampu meredam gejolak sosial keumatan di tengah-tengah masyarakat. MUI juga harus mampu mencegah berbagai bentuk penyimpangan yang melanggar syariat Islam. Sebut saja seperti LGBT, aliran sesat, paham radikal, dan berbagai bentuk intoleransi yang dapat merusak tatanan kehidupan beragama.

Dalam perannya, MUI hadir bukan hanya sebagai lembaga fatwa. MUI juga turun langsung membina umat melalui pengajian, pendidikan, dakwah, hingga pendampingan sosial. Ulama dan umara harus berjalan beriringan. Ketika umat butuh bimbingan, MUI hadir. Ketika negara butuh nasihat, MUI siap menjadi mitra.

Sementara sebagai shadiqul hukumah, MUI berperan menjadi jembatan antara pemerintah dan umat. MUI memberikan masukan, kritik yang membangun, dan fatwa yang menjadi rujukan kebijakan publik agar selaras dengan nilai-nilai agama dan konstitusi.

Di tengah derasnya arus informasi dan tantangan zaman, peran MUI semakin strategis. Hoaks, radikalisme, liberalisme, hingga krisis moral menjadi ujian yang harus dihadapi bersama. Karena itu MUI harus memperkuat sinergi dengan ormas Islam, pesantren, kampus, pemerintah daerah, hingga tokoh masyarakat.

MUI tidak boleh terjebak dalam politik praktis. Netralitas dan marwah keulamaan harus dijaga. Kredibilitas MUI ditentukan oleh kemampuannya menjaga dua hal sekaligus: melayani umat dengan ikhlas dan menjadi mitra pemerintah yang amanah.

Momentum pengajian, silaturahmi ulama, dan kegiatan keumatan seperti yang rutin digelar di desa-desa, termasuk di Banten, adalah ruang nyata MUI menjalankan fungsi khadimul ummah. Dari majelis taklim, masjid, hingga pondok pesantren, pesan-pesan keislaman yang moderat, rahmatan lil ‘alamin terus digaungkan.

Tantangan ke depan semakin kompleks. Digitalisasi dakwah menuntut MUI hadir di ruang media sosial dengan narasi yang sejuk dan mencerahkan. Konten-konten negatif mudah menyebar, maka MUI harus menjadi penjernih dan pelurus informasi keagamaan agar umat tidak tersesat.

Penguatan ekonomi umat juga menjadi bagian dari pelayanan. MUI melalui Komisi Ekonomi Syariah mendorong lahirnya UMKM halal, koperasi syariah, dan sertifikasi halal yang inklusif. Dengan begitu, pelayanan tidak hanya menyentuh aspek spiritual, tetapi juga kesejahteraan lahiriah umat.

Di bidang pendidikan, MUI harus berada di barisan depan menjaga kurikulum dan materi ajar agar sesuai dengan aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah. Pesantren dan madrasah adalah benteng terakhir. Di sinilah kader ulama masa depan ditempa untuk melanjutkan estafet khadimul ummah.

Peran perempuan dan generasi muda tidak bisa diabaikan. Majelis Taklim dan organisasi remaja masjid harus dirangkul. Mereka adalah energi baru dakwah. Dengan pembinaan yang tepat, mereka akan menjadi benteng umat dari pengaruh budaya yang merusak.

Sebagai shadiqul hukumah, MUI juga harus berani menyampaikan kebenaran dengan hikmah. Ketika ada kebijakan yang berpotensi menimbulkan keresahan umat, MUI wajib memberikan pandangan. Namun penyampaiannya harus dengan adab, data, dan solusi, bukan dengan cara provokatif.

Sinergi lintas sektoral adalah kunci. Pemerintah daerah, TNI-Polri, ormas, dan kampus harus menjadi mitra strategis MUI. Dengan kolaborasi ini, program kerukunan, pencegahan stunting, penanganan bencana, hingga literasi digital keagamaan bisa berjalan lebih efektif.

Kemandirian lembaga juga penting. MUI harus terus membangun kelembagaan yang profesional, transparan, dan berintegritas. Sumber daya manusia (SDM) pengurus perlu ditingkatkan kapasitasnya agar fatwa dan rekomendasi yang dikeluarkan semakin berkualitas dan menjawab persoalan umat hari ini.

Di akhir, kita berharap MUI terus istiqomah menjadi garda terdepan. Menjadi pelayan umat yang mengayomi, dan menjadi mitra pemerintah yang menjaga persatuan. Karena kuatnya bangsa ini salah satunya ditentukan oleh kuatnya bimbingan ulama kepada umatnya.

Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *