Oleh : Hairuzaman.
(Editor In Chief Harianexpose.com)

Raung buldozer yang akan menggusur Tempat Hiburan Malam (THM) di Jalan Lingkar Selatan (JLS) tiba-tiba berhenti. Sejumlah petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemerintah Kabupaten Serang, dengan dibantu oleh personil Polri/TNI pun mengurungkan niatnya untuk meruntuhkan bangunan THM yang selama ini beroperasi di kawasan JLS. Pagi itu, raung buldozer dihentikan oleh ratusan massa aksi unjuk rasa yang menolak lokasi THM itu digusur oleh petugas gabungan Pemkab Serang. Massa Unras berdalih bahwa mereka mengantongi surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Sehingga massa aksi Unras menolak bangunan THM itu digusur.

Celakanya, kendati sejumlah lokasi THM itu sebelumnya sudah ditutup oleh petugas satpol PP Pemkab Serang, namun mereka tetap saja membandel lantaran masih ditemukan beroperasi kembali. Tak pelak, sehingga petugas pun menjadi geram. Sehingga bangunan THM itu nyaris digusur oleh petugas Satpol PP Pemkab Serang. Namun, petugas Satpol PP dan massa Unras sempat bersitegang agar penggusuran THM dihentikan lantaran bangunan THM itu sudah mengantongi IMB.

Pasca mantan Walikota Cilegon, Alm. Tb. Aat Syafa’at, menggusur kawasan tenda biru Sangkanila Merak, ternyata belakangan di jalur JLS menjadi marak berdirinya sejumlah THM. Bahkan, para petugas pun kerap merazia peredaran minuman keras (Miras) di lokasi THM tersebut. Tak pelak, ditemukannya Miras itu sehingga hal itu menjadi pemantik munculnya keresahan di tengah-tengah masyarakat. Petugas Satpol PP Pemkab Serang, akhirnya menutup sejumlah THM yang beroperasi di jalur JLS tersebut.

Padahal, sebelumnya tujuan Pemkot Cilegon membuka jalur JLS itu sebagai alternatif untuk mengurai kepadatan arus lalu lintas di Kota Cilegon. Apalagi setiap hari banyak lalu lalang kendaraan bertonase berat milik perusahaan yang berada di kawasan Ciwandan dan sekitarnya. Sehingga dibukanya jalur JLS menjadi salah satu akses transportasi bagi kendaraan milik industri yang beroperasi di wilayah Kota Cilegon

Namun, seiring dengan dibukanya jalur JLS tersebut, justru belakangan marak usaha THM. Dimana keberadaannya kerap membuat masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan jalur JLS itu menjadi resah. Apalagi di lokasi THM, itu sering kedapatan sebagai tempat beredarnya Miras. Sehingga membuat masyarakat di lingkungan tersebut merasa tidak nyaman. Apalagi Kota Cilegon dan Kabupaten Serang dikenal masyarakatnya yang religius. Sehingga wajar saja jika masyarakat menolak terhadap keberadaan TKM yang beroperasi di jalur JLS itu.

Akan tetapi, ketika petugas Satpol PP Pemkab Serang akan membuldozer sejumlah lokasi THM itu, secara  tiba-tiba muncul kelompok massa yang menggelar akai Unras. Bahkan, massa aksi Unras pun menolak bangunan THM yang meresahkan masyarakat itu digusur oleh petugas Satpol PP Pemkab Serang. Mereka berdalih bangunan THM itu telah mengantongi payung hukum berupa IMB. Sehingga petugas Satpol PP tak boleh bertindak secara semena-mena dengan meruntuhkan bangunan yang telah mengantongi IMB tersebut. Selain itu, THM itu merupakan lokasi usahanya untuk mencari sesuap nasi. Jika bangunan THM itu dibuldozer oleh petugas Satpol PP, mereka berdalih akan kehilangan mata pencahariannya.

Disisi lain, sejumlah LSM dan Ormas belakangan ini juga mendukung pihak Pemkab Serang menggusur sejumlah bangunan THM di kawasan JLS tersebut. Bahkan, mereka minta petugas Satpol PP Pemkab Serang agar tidak perlu ragu-ragu untuk menegakkan regulasi yang telah dibuat oleh pemerintah. Sejumlah aktifis LSM dan Ormas berpendapat, selama ini Banten dikenal sebagai gudangnya Kyai dan Santri, sehingga sangat tidak elok jika marak bermunculan lokasi THM yang menjadi embrio bianglala di tengah-tengah masyarakat yang religius itu. THM juga ditengarai menjadi sumber phatologi sosial di tengah-tengah masyarakat. Hal inilah yang menjadi alasan kuat agar Pemkab Serang melakukan tindakan tegas terhadap keberadaan sejumlah lokasi THM yang selama ini beroperasi di jalur JLS tersebut.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *