Usai Tawaf Wada’, Bolehkah Beraktivitas di Mekkah

0

Oleh : M. Ishom El-Saha.

(Wakil Dekan 1 Fakultas Syariah UIN SMH Banten)

Jema’ah haji yang telah terjadwal kepulangannya ke tanah air seringkali dihadapkan dengan persoalan waktu mengerjakan thawaf wada’. Hal ini biasa terjadi pada jema’ah haji Kelompok Penerbangan (Kloter) yang dipulangkan saat pagi hari. Jika mereka mengerjakan thawaf wada’ sesudah shalat shubuh takut tertinggal. Sedangkan jika thawaf wada’ dikerjakan di malam hari terakhir berarti mereka masih berkesempatan melakukan aktivitas di Mekkah. Bukankah thawaf wada’ itu menjadi moment terakhir (pamitan) di tanah haram?

Imam Nawawi di dalam kitab Al-Idhah fi Manasik al-Hajj wa al-‘Umrah halaman 307-308 menetapkan illat (alasan) hukum seputar berdiam dirinya jema’ah haji maupun melakukan aktivitas sesudah thawaf wada’ yang dibolehkan dan tidak dibolehkan. Dalam pengertian “yang dibolehkan” berarti tidak perlu mengulang kembali thawaf wada’, dan “yang tidak dibolehkan” berarti jema’ah haji harus mengulang kembali thawaf wada’.

Alasan hukum itu terbagi 2 (dua): Pertama, Sesudah mengerjakan thawaf wada’ jema’ah haji berdiam diri di Mekkah tanpa sebab atau beraktivitas yang tidak ada kaitannya dengan sebab-sebab kepulangan. Contohnya, sesudah thawaf wada’ seorang jema’ah haji membeli perbelanjaan/oleh-oleh, membayar hutang, berkunjung ke sahabat dan kenalan, menjenguk orang yang sakit, dan sebagainya. Jema’ah haji yang sudah mengerjakan thawaf wada’ tetapi masih melakukan aktivitas semacam itu ia harus mengulang kembali thawaf wada’.

Kedua, sesudah mengerjakan thawaf wada’ jema’ah haji berdiam diri di Mekkah atau beraktivitas yang ada kaitannya dengan keperluan kepulangan. Contohnya, menukar uang tanpa berlama-lama untuk bekal perjalanan pulang, mengerjakan shalat berjama’ah di waktu yang masih tersisa, dan masih berdiam diri di Mekkah. Karena alasan menunggu pengangkutan barang bawaan atau menunggu padatnya lalu-lintas di tanah suci, dan yang lainnya. Alasan-alasan ini membolehkan jema’ah haji masih berdiam diri di Mekkah tanpa mengulang kembali thawaf wada’.

Demikian pandangan Imam Nawawi tentang illat (alasan) hukum seputar berdiam dirinya jema’ah haji maupun melakukan aktivitas sesudah thawaf wada’ yang dibolehkan dan tidak dibolehkan. Semoga bermanfaat. **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *