In Memoriam Azyumardi Azra, Sebuah Bunga Rampai Tokoh Pers Nasional

Oleh : HAIRUZAMAN.

(Penulis Buku dan Wakil Pemimpin Redaksi Tabloid VISUAL Jakarta)

Pada ghalibnya, buku yang menguliti sosok mendiang mantan Ketua Dewan Pers, Prof. Dr. Azyumardi Azra, CBE, dengan judul “Sang Intelektual Organik Yang Rendah Hati” yang ditulis oleh 31 Penulis yang tergabung dalam wadah Satupena merupakan sebuab cerminan sepak terjang dan pemikiran sang tokoh yang cukup fenomenal. Seorang Tokoh Pers Nasional yang pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pers (2022-2025) dan Cendekiawan semasa hidupnya begitu kritis menyoroti tentang masalah carut-marut hukum yang telah direbahkan oleh Penegak Hukum itu sendiri.

Salah satu kritik dan kontribusi pemikiran Azyumardi Azra adalah nasihat hukum tentang penegakkan hukum di Indonesia yang masih perlu di reformasi. Ia berpendapat, Indonesia memerlukan teformasi jilid 2, terutama dalam bidang hukum. Dalam kasus kejahatan Sambo misalnya, tampak begitu terang-benderang bahwa hukum telah direbahkan oleh penegak hukumnya sendiri. Rekayasa kasus pembunuhan ternyata dilakukan polisi – oleh mereka yang sejatinya menegakkan hukum.

Menurut Azyumardi, Indonesia yang dikenal Pancasilais dan religius, tapi banyak yang tanpa malu-malu melakukan praktik korupsi. Bahkan ada pula pimpinan Perguruan Tinggi yang ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Celakanya, para koruptor juga kerap mendapatkan potongan hukuman besar. Karena itu, agenda pembaruan hukum seperti yang ditegaskan Azyumardi Azra mutlak diperlukan. Sang Tokoh Pers Nasional dan Cendekiawan Muslim ini bukan hanya piawai mengkritik bobroknya masalah hukum di negeri ini. Azyumardi Azra juga tercatat sebagai intelektual dan akademisi papan atas Indonesia yang mendunia, terutama dalam bidang sejarah dan peradaban Islam di Nusantara dan Asia Tenggara.

Debut reputasi internasionalnya dimulai dari Disertasinya di Universitas Columbia. The Transmision of Islamic Reformism to Indonesian : Networks of Middel Ekstern and Malay-Indonesian “Ulama inthe Seventeeth and Eighteenth Centuries, yang kemudian diterbitkan oleh beberapa penerbit kelas atas dunia. Disertasi ini diterjemahkan pula ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Buku tersebut sudah dicetak ulang beberapa kali.

Karya besar pria beranak empat ini mampu membuka mata dunia, terutama Barat tentang kekuatan jaringan internasional para ulama pada masa itu, yakni abad ke-17 dan 18, yang berpusat di Timur Tengah, Jaringan itu juga melibatkan para ulama besar dan Nusantara. Jaringan ini sendiri merupakan komunitas ulama, yang datang dari berbagai tempat di dunia dan berkumpul di kota suci Makkah dan Madinah. Banyak ulama besar Nusantara pada masa itu masuk dalam jaringan tersebut. Di dua kota suci, Makkah dan Madinah, mereka melakukan berbagai kajian keagamaan dan keilmuan, termasuk isu pembaruan Islam. Banyak ulama, termasuk ulama Nusantara, sesudah bertahun-tahun menetap dan berjaringan di situ, kemudian membawa pulang berbagai gagasan menarik dan progres ke negeri asalnya. Ulama Nusantara kembali ke tanah kelahirannya dengan membawa gagasan pembaruan keislaman yang kemudian dikembangkan di Nusantara dan sekitarnya.

Buku ini berdampak dahsyat dan banyak mengubah pandangan tentang sejarah peradaban Islam di Nusantara dan Asia Tenggara. Hampir pasti, sebelum buku jaringan ulama ini terbit, belum ada kajian serius dan mendalam yang menjelaskan bahwa pembaruan sudah berakar lama di Nusantara dan sekitarnya. Kajian-kajian terdahulu memang ada, musalnya mengenai tokoh ulama, Melayu Nusantara. Namun, ini tidak menyinggung apa yang ditemukan Azyumardi Azra dalam penelitiannya. Studi-studi terdahulu juga mendasarkan diri pada sumber Barat bercampur dengan sumber lokal. Sementara Disertasi Azyumardi Azra langsung menggunakan sumber asli dalam bahasa Arab. **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *