Haji Lansia dan QS. At-Taghabun Ayat 6

0

 

Oleh : M. Ishom El Saha.

(Wakil Dekan 1 Fakultas Syariah UIN SMH Banten)

Jumlah haji lanjut usia (Lansia) saat ini semakin meningkat seiring dengan bertambahnya masa tunggu antara waktu pendaftaran haji dengan tahun keberangkatan haji. Padahal, haji merupakan ibadah fisik yang berpengaruh terhadap kondisi jemaah haji. Secara umum, resiko haji Lansia berpotensi lebih besar dibandingkan resiko jemaah haji yang berusia lebih muda. Oleh sebab itu dipandang urgen bahwa jemaah haji Lansia terutama memahami pesan QS. At-Taghabun ayat 6.

Allah SWT berfirman:

فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Artinya: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang-siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taghabun: 6)

 

Kalimat “Fattaqullah Mastatha’tum! ” atau “bertaqwalah menurut kesanggupanmu! ” tergolong perintah Allah yang bersifat muhkamah (hukum pasti). Bahkan para ahli tafsir banyak yang berpendapat bahwa QS. At-Taghabun ayat 6 ini me-nasakh (nasikhah) ayat ayat perintah bertaqwa yang berlaku umum (mansukhah).

Dalam peribadatan haji, QS. At-Taghabun ayat 6 juga banyak digunakan menjadi dalil untuk menjawab masalah kewanitaan selama menunaikan haji di tanah suci. Termasuk pengalaman yang dihadapi Siti Aisyah ketika menunaikan ibadah haji bersama Rasulullah Saw (haji wada).

Pada waktu memasuki tanah suci, Siti Aisyah kedapatan sedang “datang bulan” (haidh) sehingga beliau tidak dapat melakukan tawaf qudum sebagaimana dilakukan jemaah haji yang lain. Kecemasan yang dirasakan Siti Aisyah diredakan dengan nasehat Rasulullah: “Persiapkan dirimu sebagaimana yang disiapkan oleh jemaah haji, terkecuali tawaf karena tawaf hanya untuk orang-orang yang suci (dari hadas kecil dan besar).

Siti Aisyah merasa tenang dengan nasehat Rasulullah Saw itu. Pada waktunya, sesudah habis waktu haidh Siti Aisyah diperintahkan Rasulullah Saw untuk memulai menjalankan ibadah haji dari tempat yang kini disebut Masjid Aisyah di Tan’im.

Inilah bentuk pengamalan living Quran surat At-Taghabun ayat 6 yang dipraktikkan langsung oleh salah satu istri Rasulullah Saw, yakni Siti Aisyah. Oleh sebab itu, belajar dari QS. At-Taghabun ayat 6 ini hendaknya jemaah haji Lansia tidak “memaksakan diri” beribadah di luar kemampuan yang dimilikinya.

Beribadah-lah untuk tujuan bertaqwa kepada Allah, sesuai dengan kemampuan dan kondisi yang ada! Sebab, dari pada mengambil manfaat mengambil kesempatan ibadah sunnah di Tanah Suci, maka pada dasarnya mencegah madarat yang mengakibatkan jemaah Lansia tidak maksimal pada saat puncak haji, adalah lebih diutamakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *