Belajar dari Negeri Kuba : Saat Gang Sempit Jadi Lumbung Pangan

Oleh : Hairuzaman

(Pemerhati Futurologi dan Masalah Sosial)

Havana,  1993. Uni Soviet runtuh. Kapal minyak berhenti datang. Traktor berhenti karena tak ada solar. Sementara pupuk kimia hilang dari pasar. Kuba terancam lapar.

Jawabannya tak datang dari gedung pemerintahan. Tapi dari gang-gang sempit. Warga Havana menanam singkong di pot, bayam di atap, tomat di bekas bak mandi. Pemerintah lalu meresmikan organopónicos: lahan negara yang dipinjamkan ke kelompok tani kota. Tanpa pestisida, tanpa traktor. Cukup cangkul, kompos, dan benih lokal.

30 tahun kemudian, Havana punya 4.000 kebun kota. Setiap 1 meter persegi organopónico menghasilkan 15-20 kg sayur/tahun. Petani kota jadi profesi bergengsi. Dokter pun ikut nanam cabai sepulang dinas.

Kecil, Dikucilkan, Tapi Berdaulat

Kuba bukan negara kaya. Ia dikucilkan lewat embargo AS sejak 1962. Tapi dari keterbatasan itu, Kuba memaksa dirinya berdikari.

Pertama, Kuba investasi besar di manusia. Sekolah dan rumah sakit gratis. Hasilnya, angka melek huruf 99,8% dan harapan hidup 79 tahun, setara negara maju. Kedua, saat subsidi minyak Soviet berhenti tahun 1991, Kuba tak kolaps. Mereka banting setir ke pertanian organik perkotaan. Lahan tidur di Havana disulap jadi kebun sayur. Hari ini 50% sayuran Havana dipasok dari kebun dalam kota.

Ketiga, Kuba menolak jadi pasar industri farmasi global. Mereka riset sendiri. Vaksin meningitis B, obat kanker paru CIMAvax, semua buatan Havana.

Apa pelajaran untuk Indonesia? Kita punya tanah subur, laut luas, bonus demografi. Tapi kita masih impor beras, kedelai, garam, dokter masih numpuk di kota. Kuba bilang: kedaulatan dimulai dari keberanian melawan ketergantungan. Berani sekolah gratis beneran? Berani stop alih fungsi lahan? Berani riset sendiri tanpa nunggu investor?

Kuba bukan surga. Tapi ia bukti bahwa bangsa kecil bisa punya martabat, kalau elitnya tak kompromi soal kepentingan rakyat.

Negeri Kuba dikenal sebagai negara kecil yang mampu bertahan di tengah embargo ekonomi selama puluhan tahun. Meski serba terbatas, Kuba justru unggul di sektor kesehatan, pendidikan, dan ketahanan pangan skala komunitas.

Data WHO mencatat rasio dokter di Kuba tertinggi di dunia: 8,4 dokter per 1.000 penduduk. Pendidikan dan layanan kesehatan gratis jadi hak dasar warga. Di bidang pertanian, Kuba mengembangkan urban farming dan pertanian organik sejak 1990-an lewat program organopónicos untuk bertahan dari krisis pangan.

Bagi Indonesia, Kuba memberi pelajaran: kedaulatan tak selalu soal SDA melimpah, tapi soal keberanian mengelola yang ada, disiplin kebijakan, dan mengutamakan SDM. Di tengah ancaman krisis iklim dan pangan global, model desentralisasi pangan ala Kuba layak ditiru.

Anggota Legislatif Tak Digaji

Di Kuba yang lebih menarik lagi, seluruh anggota legislatifnya aama sekali tidak menerima gaji seperti di Indonesia. Anggota legislatif di Kuba terdiri dari utusan golongan. Sebut saja seperti profesi dokter, guru, advokat. petani, dan utusan profesi lainnya.

Setiap bulan anggota legislatif Kuba menerima gaji dari profesinya masing-masing, bukan dari anggota parlemen. Hal ini berbanding terbalik dengan parlemen di Indonesia yang digaji begitu besar dan mendapatkan pensiun kendati hanya menjabat selama 5 tahun.

Kuba hanyalah potret negeri kecil yang terlepas dari rantai kemiskinan dan kebodohan. Sebuah negeri kecil dan dikucilkan. Namun, Kuba mampu bangkit dari keterpurukan. **

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *