Rahasia Haji dalam Dialog Imam Syibli dengan Iman Zainal Abidin

0

 

Oleh : M.. Ishom El-Saha

(Wakil Dekan 1 Fakultas Syariah UIN SMH Banten)

Siapa yang tak kenal dengan Imam Syibli? Ulama ternama di zamannya, Akan tetapi dalam dialog antara dirinya dengan Imam Zainal Abidin yang terjadi setelah menunaikan ibadah haji disimpulkan bahwa dirinya belumlah ber-haji. Lantas, bagaimana dengan kita yang kapasitasnya jauh di bawah Imam Syibli?

Dialog antara dua ulama ternama ini dimuat dalam buku “Asrar al-Hajj” karya Murtadha Askari dan patut menjadi pembelajaran bagi kita. Baik yang telah maupun akan menunaikan ibadah haji di tahun ini.

Berikut ini adalah dialog lengkap kedua ulama ternama dalam sejarah Islam :

Imam Zainal Abidin (ZA) : Kamu sudah pernah haji?

Imam as-Syibli (Syi) : sudah pernah, wahai cucu Nabi.

ZA : Pada waktu berada di miqat, apa kamu lepas pakaian berjahitmu dan kamu mandi?

Syi : Ya!

ZA : Apa kamu juga niat melepaskan pakaian maksiatmu dan menggantinya dengan pakaian taat kepada Allah dan rasul-nya?

Syi.: Tidak!

ZA : Pada saat melepas pakaian ber-jahit-mu, apa kamu juga berniat melepaskan pamer-mu, munafik-mu, dan hasrat duniawi-mu?

Syi : Tidak

ZA : pada saat kamu mandi, apa kamu juga berniat mensucikan diri dari perbuatan keji dan dosa?

Syi : Tidak!

ZA : Itu berarti kamu tidak mulai dari miqat, tidak melepas pakaian harian, dan tidak menyucikan diri. Sekalipun secara lahiriyah kamu mulai dari miqat, bersuci, berihram dan niat haji!

Syi : Benar saya sudah mengerjakannya.

ZA : Pada saat kamu bersuci, mengenakan kain ihram, dan niat haji, apakah kamu juga berniat menyucikan diri dengan cahayanya Allah, dan bertaubat sungguh-sungguh kepada Allah?

Syi : Tidak!

ZA : Apa ketika kamu berniat mengenakan kain ihram kamu juga bertekad tidak akan menggunakan segala sesuatu yang telah diharamkan Allah?

Syi : Tidak!

ZA : Apa ketika kamu memulai mengerjakan ibadah haji, kamu juga berniat menghalalkan segala sesuatu yang berhubungan dengan orang lain.

Syi : Tidak!

ZA : Kalau begitu, apa yang kamu bersihkan, apa kamu niatkan pada saat mulai melakukan ibadah haji? Wahai As-Shibli, bukankah kamu mengerjakan dua raka’at shalat ihram dan membaca talbiyah?

Syi : Betul!

ZA : Apakah dalam niat shalatmu ada niat juga untuk lebih dekat lagi dengan Allah?

Syi : Tidak!

ZA : Apakah dalam bacaan talbiyahmu, kamu juga bertekad hanya akan berbicara yang Baik-baik saja dan diam serta tidak berbicara sesuatu yang tidak ada faidahnya?

Syi : Tidak!

ZA : Itu berarti kamu tidak melakukan shalat dan mulai membaca talbiyah saat berada di miqat. Wahai As-Shibli, pada waktu memasuki kota Mekkah, apa kamu melihat Ka’bah dan mengerjakan shalat?

Syi : Ya!

ZA : Pada waktu mulai memasuki kota Makkah, apa kamu mulai mengharamkan dirimu untuk menggunjing sesama saudara, seagama Islam?

Syi : Tidak!

ZA : Pada waktu kamu mengerjakan shalat persis di hadapan Ka’bah, apa betul-betul kamu beribadah untuk menyembah Allah?

Syi : Tidak!

ZA : Jika demikian berarti kamu tidak berada di tanah haram, tidak melihat Ka’bah, dan tidak pula shalat menyembah Allah!

Wahai As-Shibli apa kamu tawaf mengelilingi Ka’bah, melintasi pojok-pojok (rukun) bangunan Ka’bah?

Syi : Ya!

ZA : Apakah sewaktu kamu berjalan tawaf dan sa’i, kamu niatkan untuk menyongsong rahmatnya Allah dan melatih dirimu untuk meyakini alam gaib?

Syi : Tidak!

ZA : Jika demikian, maka kamu belum dianggap melakukan tawaf dan sa’i, wahai As-Shibli! Sekalipun kamu bertaslim kepada Hajat Aswad dan shalat di dekat Makam Ibrahim (?)

Syi : Ya, benar demikian!

ZA :  Padahal seorang yang bertaslim kepada Hajar Aswad sama halnya dirinya berjuluk salam kepada Allah SWT. Begitupun orang yang shalat di dekat Makam Ibrahim, seharusnya beribadah mengikuti cara-cara yang dilakukan Nabi Ibrahim.

Wahai As-Shibli apa kamu mengerjakan Sa’i di antara bukit Shafa dan Marwa?

Syi : Ya!

ZA : Apa sewaktu Sa’i hati-mu timbul rasa mengharapkan Rahmat Allah dan takut akan siksa Allah?

Syi : Tidak!

ZA : Apa kamu mengerjakan wukuf Arafah?

Syi : Ya!

ZA : Apa kamu tahu sewaktu wukuf di Arafah, kamu sedang diperhatikan Allah?

Syi : Tidak!

ZA : Apa kamu mengambil batu di Muzdalifah dan melakukan lontar jamarat di Mina?

Syi : Ya!

ZA : Apa kamu berniat saat melempar batu untuk menyucikan hati dan membebaskan dari belenggu syetan?

Syi : Tidak!

ZA : Padahal semestinya kamu niatkan apa yang kamu kerjakan di Muzdalifah dan di Mina itu untuk membuang dosa sehingga kamu laksana bayi yang dilahirkan ibunya.

Wahai As-Shibli apa kamu setelah dari Mina berangkat ke Masjidil Haram untuk mengerjakan tawaf Ifadah dan Sa’i?

Syi : Benar!

ZA : Apa kamu sudah memperoleh hikmah dari Allah?

Syi : Belum!

ZA : Apa kamu saat mencukur rambut berniat untuk membuka lembaran baru dalam hidupmu?

Syi :  Tidak!

ZA : Bagaiman menurut pengalaman-mu itu, apa kamu sudah ber-haji?

Disebutkan bahwa As-Shibli setelah berdialog dengan Iman Zainal Abidin, dirinya menangis tersengguk-sengguk. Dia merasa hajinya hanya lahiriyah fisik saja. Sedangkan apa yang menjadi rahasia ibadah haji belum dia kerjakan dengan benar.

Dialog dua ulama besar ini kiranya dapat dijadikan inspirasi bagi calon jema’ah haji Indonesia tahun 1445 H untuk tidak saja menyiapkan fisik lahiriyah, tetapi juga yang paling penting adalah spiritual batiniyah. Semoga semua jama’ah haji Indonesia mendapat predikat haji yang mabrur. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *